CERITA DEWASA – SESAL ABADI TAPI NIKMAT

CERITA DEWASA – SESAL ABADI TAPI NIKMAT

Disaat kesombongan itu masuk dan meluluh lantahkan sisi manusiaku, di saat-saat itulah kelelakianku menyeruak dan menyerukan keberadaannya. Entah masih pantaskah aku disebut sebagai manusia.

Bandung, 20 tahun silam, Herman memiringkan sedikit tubuhnya, mengangkat dagunya, untuk memastikan pesonanya terlihat nyata di depan cermin. Sebentar kemudian tangannya sudah terlihat sibuk membenahi rambutnya yang semula berantakan.

10

“Yang sekarang beda. Gadis lugu, orisinil, dan benar-benar fresh” . Gumamnya dalam hati. Benaknya terbayang adegan-adegan mesum seperti yang sering dilakukannya bersama wanita-wanita jalang itu. Lalu Herman tersenyum setelah melirik bundel uang dalam dompetnya.

“Cukup.” Ucapnya dalam hati. diambilnya kunci mobil dan melangkah keluar kamar. Lampu-lampu jalan menjadi saksi bisu tekadnya yang menggebu-gebu.

“Kali ini cukup seminggu.”Dan menurutnya itu sudah terlalu lama. Tapi okelah, untuk pemula.
Sampai sang waktu menamparku, aku takkan pernah bisa menyadari keberadaan takdir yang akan menghampiriku.

“Sheila.”
“Herman.” Sahutnya seranya memberikan senyum terbaik yang ia punya. Harga diri pemuda itu melambung tinggi.

Memang tak pernah sekalipun dalam hidupnya, berkenalan dengan gadis di bawah rata-rata. Dan itulah juga yang terjadi saat ini. Sheila di hadapannya adalah gadis penantang birahi siapapun yang melihatnya. Gadis yang baru saja matang , Belum pernah terjamah oleh tangan-tangan bajingan.
Tapi Herman bukan pemuda sembarangan tanpa strategi. Menurutnya gadis lugu hanya bisa ditaklukkan dalam kepasrahan. Untuk itu dia harus ekstra hati-hati. Terutama saat menyerahkan boneka beruang itu sebagai tanda perkenalan. Dia tentu saja tak ingin Sheila menolak hadiah perkenalannya.
“Thanks, tapi tak perlu.”

“Tidak apa-apa, asal kamu bisa tersenyum.”
Dan Sheila tersenyum. Tersanjung. “Panah-panah asmara menjeratku, mempermainkanku, bahkan aku tak pernah tersadar dari mimpi-mimpi yang dirangkainya dengan begitu indah.Dan sampai sejauh mana aku bisa mempertanyakan ketulusannya, jika yang kutahu hanyalah kebahaSheilaan saat-saat kubersamanya?”
Sheila belum pernah menemui pemuda seperti Herman, yang menyanjungnya setinggi langit.

Membuatnya merasa diperlakukan sebagai seorang ratu, di usianya yang masih tergolong belia. Herman bisa membelainya dengan mesra, mengungkapkan kehangatan itu dalam sanubarinya. Herman bisa mendengarkan semua keluh kesahnya selama berjam-jam tanpa sedikitpun menunjukkan raut kebosanan, untuk kemudian menghiburnya dengan kata-kata indah semanis madu yang bisa membuatnya bermimpi indah semalaman.

Herman bisa membuainya dengan lilin-lilin romantis makan malam di restoran mewah dan hadiah-hadiah yang begitu bermakna baginya. Tentu Sheila tak kuasa menolak saat Herman mengecup bibirnya seminggu kemudian.

“ Herman.”
“Maaf, aku sedikit kelewatan.” Herman menundukkan kepalanya dan merautkan wajah bersalahnya yang paling tulus,

“Maafkan aku, ya?” Herman mengangkat kepalanya dan membenamkan wajahnya ke dalam dekapan si gadis.
Sheila tak mampu melawan saat kepala itu menyebelahi kepalanya .

Kehangatan air mata yang mendadak membasahi seragam sekolahnya begitu tulus. Air mata seorang pria yang penuh penyesalan. Air mata buaya pikirnyamarena memang Segala imagi negatif harus disingkirkan terlebih dahulu.

“Ayo kita pulang.” Senyum mengembang di sela air mata.
Sheila mengangguk lemah.

Menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya saat kendaraan itu melaju.
“Lalu perasaan itu datang dan merenggut kewarasanku, membuatku seperti kehilangan akal sehat yang selalu kubanggakan.

Tapi kebanggan itu secepat hilangnya secepat kembalinya. Dan kebanggaanku adalah pada kesombonganku.”

Siang itu Herman mengeluh. Uang kiriman sudah sangat tipis. Bahkan untuk membeli sebungkus rokok terasa susah mengingat siang nanti ia sudah berjanji dengan Sheila untuk makan bersama. Tapi namanya laki- laki. Rokok dulu. Wanita belakangan. Tentu dengan suatu alasan.

“Aku mau mengajakmu ke sebuah tempat, tapi kamu jangan kecewa.” Herman berkata pada Sheila usai menjemput si gadis.

“Boleh.” Gadis Sheila menjawab sekenanya.

Warung mie itu terlihat penuh sesak. Bau keringat menyatu bersama udara bekas hujan yang belum kering. Tapi Sheila menghabiskan mie di hadapannya dengan nafsu menggebu, hingga Herman dapat melihat bulir-bulir keringat yang keluar dari kening si gadis.

“Herman, kamu tidak makan? Mau disuapin, ya?”

Tapi Herman hanya terpana. Ia tak pernah melihat kepolosan itu. Baru sekali ini. Rencananya begitu berantakan. Ia semula mengira gadis itu akan menolak lalu akhirnya rencana makan siang mereka batal dan ia bisa menghemat uang sakunya. Ternyata gadis itu justru menikmati makan siangnya dengan gaya yang begitu mempesona. Sangat Mempesona?

“Ah, ya. Suapin, dong.” Bahkan Herman sudah lupa dengan kesombongannya sendirii.
Sheila yang menyuapkan mie ke mulutnya nampak begitu terpesona. Tapi Herman kembali tertawa seusai mengantar Sheila pulang.

“Gadis bodoh.” Keangkuhan itu masih sebegitu kuatnya. Ketika datang menghancurkan dan mengikis kebekuan itu tanpa pernah disadari oleh si pembawa cinta. Tatkala lagu-lagu cinta berkumandang, yang ada hanyalah perasaan aku dengannya. Bukan lagi AKU.

Herman merasa pusing, makalah itu lenyap ditelan tumpahan kopi. Ingin rasanya ia menendang kucing buluk tadi. Namun apa daya si kucing lebih cepat menghilang. Pemuda itu sekarang menekuni komputernya, mencoba mengembalikan empat halaman penuh kata-kata omong kosong yang sudah dirangkainya seharian.

“Herman, aku sedang butuh kamu.”
“Wah, aku sibuk. Besok saja.” “Ini begini, dan ini begitu.”
Sheila memandang wajah serius Herman sambil tersenyum. Perlahan gadis itu mengecup kening kekasihnya. Begitu mesra.

“Apa-apaan ini?”
“Aku sayang kamu, Herman.”
“Aku juga.” Sekenanya ia menjawab.

Sejenak ingatan tentang makalah itu terbang lenyap. Berganti kemesraan dan sentuhan kehangatan. Sheila membelai Herman dengan penuh kasih dan membiarkan pemuda itu menyusupkan jemarinya ke balik bajunya, memijat dan meremas buah dadanya. Herman terengah dan menikmati rangsangan yang mampir tanpa rencana. Tapi kenikmatan itu terhenti saat Sheila mendorong tubuh Herman menjauh.
“Jangan kelewatan.”

Herman tidak mengumpat. Hanya tersenyum. Hanya kebingungan. Karena ia bukan seperti dirinya sendiri. Tapi Herman masih mengeraskan hatinya saat kembali ke dunia makalahnya yang sama sekali belum terselesaikan.

“Aku hanya sedikit terlena.” Belanya dalam hati.
Herman memuja setinggi langit dan bintang. Begitu mempertahankannya dalam setiap desing mata pisau yang mencoba meluluh lantakkannya. Begitu mencabarkannya walaupun ia tahu musuhnya adalah ambang kehancuran baginya.”

“Tentu saja benar!!”

Herman mulai risau akan dirinya sendiri saat makalah itu selesai. Satu bulan sudah sangat-sangat jauh dari target yang sudah disiapkan. Dan Herman hanya bisa mendapatkan bibir dan remasan di dada.
Hayo, Herman. Buktikan kalau kamu hanya terlena. Kamu tidak ingin kalau sahabat-sahabatmu seprofesi mentertawakanmu, bukan?

Herman mendenguskan udara dari hidungnya.

Mau bukti kalau itu benar?
“Sheila, aku mungkin tak bisa ke rumahmu nanti malam.”
“Tapi, Herman. Aku sudah masak semur lidah kesukaan kamu.” Huh. Mau membuatku terlena? Sori saja.
“Maaf, ya. Aku harus ke kampus sekarang.”

“Herman…?”

Klik. Dan Herman tersenyum puas. Kalau tidak bisa mendapatkan yang lebih ya ditinggal saja. Lagipula dada sudah merupakan medali perunggu yang lumayan. Dan cara meninggalkan yang paling menyenangkan adalah dengan mencari masalah duluan. Jauhi.

Dan nanti malam dia bisa kembali ke pelukan Resky. Malam yang hangat dengan dada telanjang. Herman membiarkan gadis itu melumat kemaluannya. Jemarinya menjambak rambut gadis itu. Menggerakkannya ke atas dan ke bawah.

Beberapa saat kemudian Herman sudah menikmati pergumulannya dengan Resky. Gadis itu mengerang saat pemuda Herman menggerakkan pinggulnya dengan lincah, menekan dan menggesek, memenuhi liang kemaluannya dengan kehangatan. Dan Herman tersengat saat puncak rangsangan itu tak bisa dihadangnya.
“Sheila…..”

Dan ia membayangkan sudut-sudut kamar yang temaram. Sosok gadis yang meringkuk, menangis meratapi ketidak hadirannya di atas tempat tidur. Terisak. Bantal yang basah. Bahu yang berguncang.
Mangkuk semur lidah di tempat sampah. Jadi makanan kucing buduk.

“Sheila….……..”

Herman melompat, membiarkan Resky terlena dalam kenikmatan yang telah diberikannya pada gadis itu. Secepat kilat diraihnya handphone dan menelepon Sheila.

“Kamu jadi ke sini? Tidak apa, ini kan masih pukul sepuluh.” Sahut Sheila

“Tidak. Lagipula semur lidahmu masih di kulkas. Tinggal dihangatkan.”

Entah mengapa Herman merasakan kelegaan itu dalam hatinya.Sangat lega.Kucing buduk? Enak saja.Dendam kopi belum lunas, Cing.

“Tanpa terasa sang waktu terus berlari, meninggalkan rona pelangi yang mewarnai kehidupannya dengan pola-pola abstrak. Pola-pola yang memberikan kenyamanan, semakin melenakank dalam buaiannya.

Tapi sosok keangkuhan itu tetap ada, entah mengapa.
“Gila. Sudah dua bulan berlalu. Tapi aku masih belum juga memperoleh kemajuan apapun” Herman mendesah dalam hatinya. Benaknya benar-benar bimbang.

“Kok lama, Herman?” Salah seorang sahabatnya bertanya.

“Katanya harus pelan-pelan.” Herman memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum.
Walau tak dapat disembunyikan bahwa senyuman itu palsu.

“Jangan-jangan kamu……..hahahahaha.” Tawa menyebalkan dan jelas Tuduhan yang ngawur.
“Enak saja. Siapa yang bilang begitu?”

Tapi Herman tersentak. Orang hanya marah kalau yang dituduhkan padanya benar adanya. Baiklah. Desis pemuda Herman sambi berjanji pada dirinya sendiri.

Mari kita mengakhiri cerita roman picisan ini.
“Ah pemuda pecinta, seandainya engkau menemukan sosok ketulusan itu dalam diri penaklukmu…..”
“Jangan, Herman.”
“Maafkan aku, Sheila.” Herman membalikkan tubuhnya dan bersiap melangkah pergi.

Kepalanya terasa begitu pening. Lebih pening tatkala lengan gadis itu memeluk kakinya.

“Jangan tinggalkan Sheila sendiri. Please.”

Please. Kata yang tak pernah bisa ditahannya. Air mata. Herman mengeraskan hatinya, membiarkan gadis itu terseret bersama langkahnya.

“Lepaskan, Sheila!”
“Tidak, Herman. Tidak……”
“Sheila.”
“Aku salah apa Herman? Aku salah apa?”

Kamu tak salah, Sheila. Aku yang salah karena bertemu denganmu. Herman mengeraskan hatinya. Gadis itu masih terseret. Isak tangisnya.

“Herman….”
Pemuda Herman tak tahan lagi, membalikkan tubuhnya dan memegang pundak si gadis Sheila. Keras dan setengah mencakar.

“Dengar Sheila! Aku tidak mencintaimu. Aku hanya bermain-main.”

Sheila tersentak dan membeliakkan matanya yang berkaca-kaca. Tiada sepatah katapun keluar dari bibirnya yang bergetar. Herman mengangkat tubuhnya dan meraih pegangan pintu.

“Herman….” Kedua lengan itu kini memeluk pinggangnya.
Air mata membasahi pungungnya. Kehangatan dan kesedihan.
Herman berhenti. Keraguan terbersit di hatinya. Terenyuh. Tegakah ia?

“Kulakukan apapun asal kamu tidak pergi.”
Kali ini Herman yang tersentak. Apapun?
APAPUN???

“Wahai pemuda pecinta, apakah yang kaulihat di balik bening bola mata penaklukmu? Nafsukah? Atau kasih sayang dan ketulusan?” lontar Sheila

Gadis Sheila membiarkan pemuda itu menelanjanginya, menciumi seluruh baSheilan-baSheilan sensitif di tubuhnya. Pemuda yang menggelutinya adalah kecintaannya, buah hatinya. Kekasihnya. Herman mengeluh dan mendesah di balik nafsunya.

Bibir Sheila bergetar saat jemari pemuda itu menyapu bulu-bulu kemaluannya dan meraba bibir vaginanya yang perlahan membasah. Herman merasakan ketegangan itu. Dia dapat mencium bau keringat seorang perawan yang belum pernah terjamah. Bau yang begitu harum dan menggoda setiap syaraf birahi dalam tubuhnya.

Pemuda Herman menempelkan ujung kemaluannya ke permukaan liang kehangatan si gadis Sheila. Bersiap menusuk dan merenggut keperawanan itu. Saat Herman melihat mata Sheila. Mata itu terbuka. Menantang penuh kepastian. Herman menekan ujung penisnya.

Mata itu masih terbuka. Menantang. Pasti. Musik masih mengalun, beberapa pemuda dan pemudi masih bergoyang dengan asyik. Tapi Ray sudah kehilangan pengaruh gin tonik yang sejam lalu masih memanasi otaknya.
“Lalu?”

Bapak di hadapannya tersenyum. Senyuman yang mengandung nuansa kegetiran disamping kerutan di kening dan bawah matanya, menodai jejak-jejak ketampanan yang masih tersisa.

“Sebentar, saya mau ke belakang dulu.”
Ray menghembuskan nafasnya. Lega karena tensi itu sedikit meregang. Dipandanginya tubuh bapak yang baru dikenalnya satu setengah jam yang lalu. Ray menatap gelas kecil di hadapannya. Mendadak gin tonik itu tidak lagi terasa menggoda.

Pintu kamar mandi terbuka. Pemuda berambut panjang itu menyusupkan kepalanya. Tersentak melihat sosok yang membungkuk di depan wastafel.

“Bapak……?”
Herman merangkul pemuda itu dan menumpahkan seluruh kepedihan yang tersimpan sepuluh tahun lamanya. Ray terbata. Tak mampu mengatakan sepatah katapun.

9

“Bapak….. Bapak meninggalkannya.” Dan Herman hanya terisak. Ia menceritakan kisah terpendam itu.
Kisah yang membuatnya berubah. Kisah yang membuatnya meratapi kesepian kehidupannya. Karena pemuda ini begitu persis dengan dirinya.

Dan Ray sadar itu. Sangat-sangat sadar, sampai kebingungan. Café Pink, bersinar dalam derap musik dan goyangan anak muda. Tenggelam dalam kepedihan. Seorang bapak yang pathetic. Dan seorang pemuda kebingungan.

“Jika kesempatan itu melambai padamu, jangan pernah lari dan menghindar. Karena kesempatan itu berarti kebahagiaan ataupun penyesalan …..untuk selamanya.”

 

 

Agen Poker Online

Nikmati Hot Promo Dari BISNISPOKER.COM :
*Bonus Deposit 5%
*Bonus Rollingan Sebesar 0.2%
*Bonus Refrensi Sebesar 10%
*Minimal Depo WD Rp.10.000,-

Contact us :
– LiveChat: BISNISPOKER.COM
– Pin BB : 5BFB75BD
– LINE : BISNISPOKER
– No Hp : +85592678615

#Agen Poker Terpercaya
#Agen Poker Online
#Agen Domino Kiukiu
#Agen Domino Online
#Bandarkiu Online
#Agen Domino
#Agen Poker
#Agen Capsa
#Daftar Poker Online

This Post Has Been Viewed 431 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *