Agen Poker Online

Cerita Dewasa – Weekend Sex Party Part 2

Cerita Dewasa – Weekend Sex Party Part 2

Chapter 5: Belajar dan Bermain Bersama

Asep hanya bisa mematung. Bisikan Dita sungguh di luar dugaan; butuh waktu lama buat Asep untuk merespon

“A-ah..s-saya mah…s-saya…” Asep tak bisa merangkai kata, apalagi dengan Dita yang terus menatapnya sambil tersenyum

“Sssst” Dita menaruh telunjuk di atas bibr tipisnya “Di sana aja yuk, Mas Asep”

Asep menurut saja ketika Dita menuntun tangannya ke tempat yang agak jauh dari yang lain. Sepanjang jalan pikiran Asep berkecamuk, bagaimanapun mungkin Dita tahu? Asep tak pernah cerita ke siapapun. Atau dia hanya menebak-nebak saja? Mengingat Dita dekat dengan Eci, bahaya kalau dia sampai bilang-bilang ke Eci. Asep harus mencoba menyangkal.

Dua manusia berlainan jenis yang telanjang bulat itu sampai di tempat yang diinginkan Dita. Dengan santainya Dita berbaring, mengangkangkan kakinya hingga terlihat memek pink dengan jembut tipisnya.

“Ayo Mas Asep, di atas yaa” rajuknya

Dengan ragu, Asep mengikuti perintah Dita. Pelan, Asep memposisikan tubuhnya di atas tubuh Dita yang terlentang. Lalu dia menurunkan tubuhnya untuk menindih Dita, tapi tiba-tiba Dita memeluk Asep dengan erat sehingga dada kurus Asep langsung menempel di bukit empuk gadis berjilbab itu. Dalam posisi itu kepala mereka berdekatan, dan Dita kembali berbisik di telinga Asep.

“Aku perhatiin dari dulu kok Mas Asep…Aku bisa liat Mas Asep ada rasa sama Dinda”

“Nggak Mbak, saya mah gak ada rasa sama Dinda” sangkal Asep, sama-sama berbisik walaupun mereka sudah cukup jauh dari yang lain.

“Masa?”

“Iyalah Mbak, kan Dinda mah udah punya pacar”

“Apa hubungannya?”

“Eh?”

Asep mengangkat kepalanya. Dita lagi-lagi menatapnya dengan senyuman manis yang akan membuat siapapun meleleh. Kecuali pria yang otaknya sedang dipenuhi wanita lain, seperti Asep.

“Justru Mas Asep gak cerita ke siapa-siapa, gak berani mulai PDKT karena Dinda udah ada yang punya kan? Tapi aku bisa liat kalo orang nyimpen perasaan terpendam”

Asep terdiam, dia ingin menyangkal tapi tak tahu harus berkata apa.
“Tenang aja Mas Asep, aku gak akan bilang-bilang ke si Mpok Eci” ujar Dita memutus lamunan Asep

“M-maksudnya?” Asep bingung

“Iiya…Rahasia Mas Asep aman kok sama aku”

Asep langsung sumringah “Wah…Makasih Mbak!”

“Berarti bener kan?”

“Hah?” senyum Asep langsung hilang

“Hehehe, tadi Mas Asep gak langsung ngakuin sendiri” ujar Dita santai sambil tertawa kecil

Ah, sial! Kena jebakan deh gue, batin Asep

“Yaa, asal jangan bilang siapa-siapa lagi ya Mbak. Bukan masalah aturan pesta ini aja, tapi juga sayah gak enak sama Dinda sama yang lain, apalagi pacarnya si Anto” Asep yang sudah lega mulai tak sungkan curhat.

“Iiya, aku ngerti kok..Mas Asep bisa cerita sama aku..eh tapi ngomong-ngomong..”

“Apa Mbak?”

“Masukin dong”

Dita melepas pelukannya hingga Asep bisa mengangkat badannya

“Oh…I-iya Mbak” Asep bergegas mengecek kontolnya dan hebatnya, kontol itu sudah mengeras tanpa dia sadari. Amejing! Hanya dengan ditempel tubuh Dita, batang itu bisa tegak dengan sendirinya. Kalau sudah begini, siapa yang butuh foreplay? Bukan Asep, bukan juga Dita karena begitu Asep menusukkan pedangnya ke lubang nikmat Dita, gua itu sudah cukup basah dan merekah.
“Mmmmmhhhh…” Dita melenguh dengan mata terpejam, menikmati sensasi birahi yang menjalar tubuhnya. Begitu juga Asep yang kembali merasakan kedutan memek ajaib Dita. Sensasinya benar-benar luar biasa.

“Mas Aseeep…” Dita merajuk dengan lembut “Aku punya request tapinya yaaa…”

“Rikues?”

“Iiya, gantinya aku pegang rahasia Mas Asep, aku minta Mas Asep menuhin penginnya aku..”

Wah sial nih, ternyata ada bayarannya juga, batin Asep.

“Gak susah kok requestnya hehe. Aku cuma pengen…” Dita sengaja tidak melanjutkan ucapannya

“Pengen apa Mbak?”

“Aku pengen Mas Asep ngentotin aku kayak Mas Asep sama Dinda tadi pagi…Kayaknya mesra banget deh hehe” pinta Dita dengan suara manja

“Ah Mbak, saya mah pelan-pelan waktu itu soalnya kita baru bangun” elak Asep

“Hmm, tapi Mas Asep maennya pake perasaan kan?”

Asep menggaruk-garuk kepalanya “Iya deh Mbak, saya coba”
“Nah gitu dong, aku juga bantu kok” Dita tersenyum lalu lalu menarik kepala Asep dan mencium bibirnya. Mau tak mau Asep membalasnya. Ciuman Dita begitu lembut, seperti ciuman dari seorang kekasih. Beda dengan pagutan penuh nafsu Eci tadi malam, juga sewaktu dengan Dinda pertama kali. Asep seolah diajari Dita cara menyampaikan perasaan lewat ciuman, sesuatu yang dia lupakan di pesta asal coblos ini. Sementara di bagian bawah, Asep mencoba menyeimbangkan kecepatan dengan intensitas. Daripada mengejar jumlah tusukan per menit, Asep lebih memilih untuk memompa lubang nikmat Dita dengan tusukan-tusukan panjang dengan sedikit gerakan memutar. Aksinya ini dibantu oleh Dita yang juga menggerakkan pinggulnya sesuai ritme genjotan Asep. Bahkan gerakan dinding memek Dita yang mengagetkan Asep tadi malam juga lebih lembut, seperti memeluk dan memijat-mijat batang keras Asep yang bertandang ke sana.
Ketika bibir mereka terlepas selesai berciuman mesra, bibir tipis Dita mengeluarkan desahan manja dengan matanya terus menatap mata Asep.

“Ahhhmhhhhh…Mas Aseeeepppp…” Dita memanggil nama Asep dengan suara semesra mungkin

“Mbak Ditaaaa….” Asep membalas

Asep tahu betul Dita berusaha untuk berperan sebagai kekasih di sesi persetubuhan ini. Memang tak mungkin Asep melupakan Dinda begitu saja, pun tak mungkin Asep akan memperlakukan Dita seperti Dinda. Perasaan tak bisa dibohongi. Baik Asep dan Dita tahu itu. Maka Asep berusaha memainkan perannya, mencoba memperlakukan Dita selembut dan semesra mungkin. Berharap kejadian tadi malam terulang, ketika Asep bisa fokus menyetubuhi Irma membiarkan instingnya bekerja, terisolir dari pikiran lain yang mengganggu. Dan tampaknya Dita tahu itu dan membantu dengan mengajak Asep bercinta di tempat yang agak jauh dari yang lain. Agar Asep tidak terganggu dengan Dinda yang sedang asyik masyuk disetubuhi Reza.
Dan sepertinya usaha mereka berhasil. Asep mulai membiarkan instingnya mengambil alih. Dia terus menumbuk memek Dita tanpa perlu berpikir, dengan tempo natural menimbangi gerakan pinggul Dita. Jelas, sensasi lubang basah Dita yang memijat batang kerasnya adalah yang paling nikmat. Tapi kehangatan badan Dita juga membangkitkan birahi Asep ke awang-awang. Posisi misionaris adalah posisi yang memungkinkan kedua orang yang terlibat menyentuhkan kulit mereka semaksimal mungkin. Buah dada Dita yang empuk terhimpit dada Asep yang kurus. Puting susunya yang kenyal bergesekan dengan kulit dada Asep yang kasar dan sedikit berbulu, memberi sensasi nikmat bagi keduanya. Sementara kaki Dita sudah naik mengunci kaki Asep, seolah tak rela melepas pria yang sedang menyetubuhinya itu. Tangan Dita juga tak tinggal diam, sesekali dia merabai punggung Asep yang membuat pria berkulit gelap itu menggelinjang, Kadang tangan Dita mencengkram erat lengan Asep yang kurus namun berotot.
Saking nikmatnya, keduanya sesekali memejamkan mata meresapi kenikmatan birahi. Tapi ketika mata mereka terbuka, mereka saling menatap dan memanggil nama masing-masing.

“Mas Asseeeppphhhh…”

“Mbak Ditaaaahhhh…”

Kalau sudah begitu mereka lalu berciuman mesra. Begitu nikmatnya, sesekali Asep merasa cengkraman tangan Dita tiba-tiba menguat, kakinya semakin memeluk erat, begitu juga dinding kelamin Dita yang mencengkram lebih erat diiring erangan lirih. Asep semakin takjub dengan Dita; gadis itu bisa berekspresi dengan liar seperti tadi malam sewaktu disetubuhi Jejen, tapi juga bisa mengekspresikan puncak birahinya dengan elegan seperti ini. Di balik wajah kalem dan imej alimnya, Dita seperti mesin seks yang sempurna. Selain tubuhnya Dita punya skill yang lebih dari yang lain. Memang yang lain juga tidak kalah, terutama soal agresivitas dan stamina Eci adalah yang paling ganas. Tapi Dita seolah-olah yang paling berpengalaman daripada yang lain.
Sementara Dita sukses menggapai orgasmenya berkali-kali, Asep juga hampir mencapai puncak. Sekarang tangan mereka saling berpegangan erat seperti sepasang kekasih. Memek Dita semakin intens memijat kontol Asep yang menggenjotnya.

“Mas Aseep…Mas Aseeppp….Ahhh Mas Aseeppppp!!!!”

Dan Dita memanggil-manggil namanya, terus mendorong birahi Asep ke puncak tertinggi. Akhirnya Asep serasa melihat sekelebat sinar, rasa nikmat menjalar dari tulang belakang ke kelaminnya, dan…

“Arrghhhhh…Mbak Ditaaaaaaaaaa!”

CROTT CROTT CROTT

Tubuh Asep gemetar saat air maninya memancar menemprot rahim Dita. Gadis itu juga ikut tersentak, matanya terpejam. Rasa hangat di organ intimnya memberi rasa damai di benak Dita.
Keduanya terdiam, saling menindih mengatur nafas masing-masing. Ketika rasa itu reda, Asep menggulingkan tubuhnya berbaring di samping Dita.

“Enak..huff…huff…gak…Mas Asep?” tanya Dita yang masih ngos-ngosan

“Iyah..haahhh…Mbak gimana?”

“Banget…Aku dapet banyak…Gak keitung hahah”

Asep bangkit untuk duduk, diikuti Dita

“Makasih ya Mbak pelajarannya” cetus Asep tiba-tiba

“Ih, emang aku ngajarin apa?” tanya Dita heran

“Banyak deh Mbak, saya belajar banyak tadi”

“Ah Mas Asep, tadi Mas Asep itu pake insting sendiri…Yakin deh, Mas Asep punya potensi alami”

Asep manggut-manggut. Tapi dia masih punya pertanyaan di benaknya.

“Eh Mbak, maaf ya tapi ngeliat semalam sama Jejen saya kira Mbak seneng rada kasar gitu, hehe”

“Oooh, aku sih emang biasa maen kayak gitu, tapi aku juga pengen dong nyoba yang rada lembut dikit. Tuh cowok-cowok itu gak pada bisa diajak slow dikit. Yah bukannya aku gak seneng, aku juga pengen ngerasain seks yang kayak tadi…” jawab Dita cuek

Asep kembali manggut-manggut ketika Dita menggumam dengan suara pelan “Kan aku juga cewek…”

“Hmm? Tadi ngomong apa Mbak?”

“Mmm…Bukan apa-apa kok…Yuk ah balik ke yang lain, udah pada nungguin pasti”

Dita berdiri, melangkahkan tubuh bugilnya yang putih mulus di bawah sinar mentari sore.
Asep dan Dita berjalan beriringan ke tengah halaman. Di sana Reza, Dinda, dan Irma sedang duduk-duduk sambil mengobrol. Jejen sedang merokok di pojokan. Tampaknya acara gulat birahi mereka juga sudah selesai. Dengan santainya, masih dalam kondisi bugil mereka bercengkrama tanpa beban. Asep sedikit iri melihatnya. Asep juga sebenarnya ingin menikmati pesta ini tanpa dibebani apapun.

“Beres Sep?” tanya Reza begitu Asep duduk

“Ya iyalah, kalo belum ngapain gua balik sini” jawab Asep

“Heheh, lo juga kemarin malem belom sempet ngecrot di dalem Mbak Dita kan? Gua juga baru hari ini bisa puas ngecrotin memek si Dinceu” Dinda hanya tertawa mendengar perkataan Reza, tak tahu bahwa hati Asep tak menentu mendengarnya.

“Eh Asep ngapain tadi maennya jauh amat?” tanya Dinda tiba-tiba

“Oh? I-itu..”

“Biar gak keganggu si Irma, suka berisik tuh anak kalo lagi maen” jawab Dita cepat membantu Asep

Mata bulat Irma melotot “Iih, enak aja, emang aku segitu berisiknya…nggak kan Reza?”

“Dih, tadi aja dia teriak-teriak ‘aduh memek aku Mas Jejen’ kenceng banget dah” goda Reza menirukan Irma. Kontan Irma yang kesal memukul-mukul tangan Reza, sambil tergelak Reza menambahkan “Si Jejen sampe panik nyuruh si Irma diem takut kedengeran orang, beneran Mbak!”. Mereka tertawa-tawa sambil saling meledek, sampai Dita teringat sesuatu.

“Eh jadi ini gimana nih gamesnya?” tanya Dita

“Lah Mbak Eci-nya mana? Yuk kita susul aja” usul Dinda

“Jangan-jangan belum beres maennya tuh berdua” Irma menimpali
Dan memang Eci dan Ari masih belum selesai. Eci masih bergoyang dengan intens di atas badan Ari yang terlentang. Nafas Eci memburu bersahutan dengan erangan erotisnya. Tangan Eci mencengkram payudaranya sendiri dan meremasnya dengan liar seperti kesetanan. Sementara Ari hanya diam terlentang tak bergerak. Tampak mukanya meringis seperti menahan sesuatu, membuat Asep merasa kasihan melihatnya.

“Hey Mpoook!” tegur Dita

Eci yang dari tadi terus menengadah sambil terpejam membuka matanya dan menengok ke arah rombongan.

“Ohh..Udah pada beres yahh..Bentarr aku dikit lagi ahhhh!”

“Huu malah yang paling lama maen” gerutu Reza

Tapi Eci cuek aja, sambil terus mengerang dia memberi Ari instruksi terakhir “Ariii keluarin ajjah…Ahh..Gak usah…Ditahan lagi…Ahhhh”

“I-iya Mbak…Gaaahhhh!” Ari pun ikut mengerang

Gerakan keduanya terhenti, hanya sesekali tubuh Eci tersentak-sentak. Eci yang disembur air mani Ari orgasme di depan mata teman-temannya. Melihat betapa agresifnya Eci, Asep jadi sedikit takut.

“Haahhh…Puas deh guee..Oke guys, rehat bentar 10 menit yah, aku mau minum dulu” setelah beberapa detik terdiam menikmati orgasmenya, Eci dengan santainya berdiri mencabut memeknya dari kontol Ari yang sudah layu. Dengan agak sempoyongan Eci berjalan ke arah dapur dengan cairan kental menetes-netes dari selangkangannya.
”Ri kok kalo sama aku kemaren kok keluarnya cepet sih, gak kayak tadi” Irma bertanya sambil manyun

Ari yang masih terlentang kelelahan di karpet hanya nyengir.

“Gua diancam Ir, katanya ‘awas aja kalo keluar duluan sebelum aku suruh’. Takut gua”

“Yaelah si Mpok” Dita hanya geleng-geleng kepala. Memang Ari adalah yang paling pasif di antara mereka, jadi cocok buat Eci yang dominan. Reza dan Dinda tertawa, tapi Asep jadi kepikiran. Wew, serem juga si Mbak Eci. Diliriknya Dita di sebelahnya. Jangan sampe rahasia gua bocor deh, pikir Asep sambil menelan ludah.

Jejen yang baru bergabung cengar-cengir dengan muka bloon “Ada apah ini teh rame-rame?”

***
Ternyata lomba yang direncanakan Eci adalah…balap karung. Dengan para cewek sebagai karungnya. Lomba yang aneh tapi Asep ikut saja, lumayan buat break dari persetubuhan tanpa henti hari itu. Jadi di halaman belakang yang luas itu para cowok akan berlari ke arah para cewek yang sudah menunggu. Lalu para cowok harus menggendong pasangannya kembali ke posisi start, lalu balik lagi ke finish. Dan karena ini pesta seks, tentu bukan digendong biasa. Tapi posisi dimana para cewek memeluk pasangannya dari depan, kemudian menggantungkan kakinya di pinggang para cowok yang menahan beban tubuh pasangannya dengan tangan mereka.

“Jangan asal gendong dan lari. Kontol kalian harus masuk ke memek kita-kita. Terus biar ceweknya ada peran, harus ngegerakkin pinggulnya mompain kontol pasangannya. Biar adil kan, gak cuman cowoknya aja yang kebagian capek” Eci memimpin briefing

“Wah kalo gitu mah susah atuh sambil lari” protes Jejen

“Ya jangan lari aja, secepet-cepetnya kalian bisa gerak. Yang ngelanggar diskualifikasi OK?”

Asep mengangkat tangan “Kalo kita semua ikut, atuh siapa yang nanti mastiin gak ada yang curang?”

“Hmm…bener juga ya…” Eci tampak berpikir “Aku sih pikirannya semua bakal main fair tapi…”

Giliran Ari yang mengangkat tangan “Saya ajah Mbak, saya jadi wasit! Masih cape nih”

“Trus kurang dong orangnya?” protes Irma

“Yah udah, kalo gitu aku juga gak ikut, pas kan. Aku ngawasin aja” Eci memberi solusi, yang membuat Ari lega karena sebelumnya dia khawatir bakal dimarahi Eci.
Beberapa lama kemudian, persiapan dimulai. Para cowok yang jadi peserta sebelumnya dikocok dan disepong dulu oleh para cewek agar kontol mereka kembali tegak, sambil pemanasan.

“Oke, para cowok ngambil undian nentuin pasangannya. Kalo gak, semua pasti bakal milih Dinda yang paling ringan” perintah Eci sambil menunjuk Dinda yang mulutnya sedang dipenuhi kontol Jejen. Nampaknya kali ini bukan hanya Asep yang menginginkan Dinda.

Bergiliran Reza, Asep, dan Jejen mengambil lintingan kertas yang dibuat Dita. Asep agak terbelah dua soal ini. Di satu sisi, kalau dia dapat Dinda, Asep bisa berpasangan dengan gadis pujaannya itu di lomba ini. Tapi nantinya sulit baginya untuk mengambil Dinda lagi setelah ini tanpa terlihat dia ingin memonopoli.
…Dan Asep pun mendapat Dinda sebagai pasangannya.

“Selamat yaa Mas Asep…” ucapan selamat Dita oleh yang lain dianggap biasa saja, karena Asep jadi unggulan dengan mendapat beban paling ringan. Tapi melihat senyum dan tatapan mata Dita, Asep tahu Dita punya makna lain.

Jejen mendapat Irma, jadi Reza dapat Dita. Irma memang langsing, tapi tubuhnya tinggi sehingga agak sulit buat digendong Jejen, kedua terpendek setelah Ari. Dita memang tidak terlalu gemuk sebenarnya, tapi Reza adalah yang paling kurus di antara yang lain. Sementara Dinda, tubuhnya setinggi

Judi Bola Indo

Dita tapi selangsing Irma. Cocok buat Asep. Hmm, memang tubuh kita paling kompatibel, batin Asep.
Lomba absurd ini segera dimulai. Ari mengawasi di garis start, sedangkan Eci di garis finish tempat para gadis menunggu.

“Ayooo semangat semuanya!” teriak Eci

Para peserta pria bersiap di garis start. Bedanya dengan lomba biasa, selain telanjang mereka juga sibuk mengocok kontol masing-masing agar tetap tegak waktu sampai ke tempat pasangan mereka.

“Siaaaap…Mulai! PRITTTTT!” Ari meniup peluit yang dia dapat entah dari mana

Asep, Reza, dan Jejen berlari sekencang yang mereka bisa. Reza memimpin, diikuti Asep. Begitu sampai, dengan sigap Dita memeluk Reza dan meloncat ke pangkuannya. Agak susah, Reza mencoba memasukkan kontolnya ke memek Dita. Sebenarnya trik untuk posisi ekiben dari berdiri adalah penetrasi dilakukan sewaktu sebelah kaki si wanita masih menjejak tanah, sehingga minimal ada satu tangan si pria yang bisa membantu mengarahkan. Bila kedua kaki si wanita sudah terangkat, kedua tangan si pria sudah sibuk menopang paha pasangannya.

Spoiler: Ilustrasi Ekiben

Reza kehilangan sedikit waktu karena usaha penetrasi pertamanya gagal. Sementara Asep dan Jejen memilih untuk pelan-pelan yang penting berhasil. Eci hilir mudik mengawasi para peserta.

“Ayo masukin! Itu udah tuh Mas Jejen! Ayo!”

Jejen mulai bergerak, tapi kaki Irma yang panjang agak menyulitkannya. Irma sendiri berusaha menggerakkan pinggulnya sesuai aturan, yang membuat Jejen tambah kesulitan.

“Kalo ceweknya gak gerak, cowoknya juga gak boleh gerak!” seru Eci mengingatkan

Dinda melenguh saat kontol Asep menembus memeknya. Tangan gadis itu sudah melingkar di leher Asep, tinggal menunggu Asep mengangkat kakinya.

“Ahhh..Udah masuk Sep..”

“Iyah, siniin kakinya” sekarang Dinda sudah menggantungkan tubuhnya di pelukan Asep. Inginnya Asep sih Dinda juga menggantungkan hatinya (ngarep). Momen ini seharusnya indah, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk Asep menikmati.

“Ayo Sep, mulai, kita bisa menang nih!” seru Dinda

Mendengarnya Asep berpikir, bila mereka menang Dinda akan senang karena sepertinya dia semangat sekali di lomba ini. Yup, Asep memantapkan hatinya. Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kalo dia bisa membahagiakan Dinda sekecil apapun, akan dia lakukan.


Asep dan Dinda memimpin, tak jauh Reza dan Dita semakin mempertipis jarak. Jejen dan Irma juga tak mau kalah. Jarak yang ditempuh memang tak terlalu jauh, tapi karena mereka tak bisa bergerak terlalu cepat maka lomba itu jadi lebih lama dari yang mereka duga. Para gadis mendesah dan sesekali menjerit, bukan hanya karena sedang menjepit kontol dengan lubang mereka, juga karena takut jatuh setiap kali pasangannya melangkah.

“Ahhahh..ahh..haaa.hhhaa…Asep…bentarrr..ahh..iiya ayo terus!” Dinda meracau sementara Asep berusaha keras untuk melangkah lebih cepat dari yang lain. Biar menang, demi Dinda.

Akhirnya Asep mencapai garis yang dijaga Ari, tapi tak lama setelah memutar balik, dia harus berhenti sebentar karena Dinda juga menghentikan gerakan pinggulnya. Tak lama, karena Dinda hanya mengambil nafas. Tapi momen itu dimanfaatkan pasangan Reza-Dita untuk menyusul Asep-Dinda. Pertarungan sengit terjadi. Jejen-Irma berusaha sekeras mungkin tapi tetap tertinggal di belakang.

“Mas Jejeeennn ayo cepetannn! Aku udah gerak terus nih!” protes Irma

“Beurat siah! Aduhh suku aing!” gerutu Jejen tak mau kalah
Akhirnya di pertengahan lintasan, Jejen tak kuat lagi. Dia terjatuh sambil mengaduh. Irma yang dipeluknya menjerit, untungnya mereka tidak terjatuh dalam posisi berbahaya. Eci dan Ari menertawakan mereka, tapi dua pasangan lain yang masih berlomba tak punya waktu untuk itu.

Asep-Dinda dan Reza-Dita sudah ¾ menuju garis finish. Asep mulai kehilangan tenaga, membuatnya hampir disalip oleh Reza yang lebih kurus dan membawa beban lebih berat.

Gawat! Reza sudah sejajar dengan Asep, sedangkan Asep semakin melambat. Padahal Dinda juga sudah berusaha sekuat tenaga terus bergerak agar Asep tidak perlu berhenti. Tapi kaki Asep sudah hampir tidak kuat. Persaingan keduanya terus berlangsung sampai menjelang garis finish. Perlahan Reza mulai sedikit lebih maju dari Asep. Butuh keajaiban buat Asep untuk menang…
Dan tiba-tiba Reza berhenti.

Reza tampak meringis dengan sebelah mata terpejam. Dita masih terus menggerakkan badannya di pelukan Reza.

“Mmmmbb-mbak stoop…Stoop dulu bentar…ini ngejepitnya…aduh!” teriak Reza

Asep tak menyia-nyiakan peluang. Dikerahkannya semua tenaganya yang tersisa, untuk menyusul Reza, dan akhirnya mencapai garis finish pertama.

“Yeey! Selamat buat Asep dan Dinda!” Eci meloncat-loncat kegirangan.

Begitu Dinda lepas dari pelukannya, Asep pun ambruk berbaring di karpet mengatur nafasnya. Dinda menyusul di sebelahnya.

“Capek Sep?” tanya Dinda, juga ngos-ngosan tapi matanya berbinar bahagia

“Ya pastilah”

“Sori ya aku berat, hehe” hilang sudah capek Asep melihat senyuman Dinda

“Ah, nggak kok, gua aja yang kurang stamina”

Dinda bangkit berdiri, tapi sebelumnya dia mencium bibir Asep “Mmmuah…Makasih ya Sep”

Asep terus berbaring dengan rasa bahagia. Tak jauh dari situ Reza terduduk kelelahan.

“Kok lo berhenti Za? Padahal tinggal dikit lagi menang” tanya Ari

“Itu tadi tiba-tiba memeknya si Mbak Dita ngejepit kontol gua keras banget, sakit banget dah”

“Maaf ya Mas Reza, aku juga gak tau kenapa kok bisa gitu” ujar Dita yang juga duduk dekat situ memasang tampang bersalah.

Mendengarnya Asep langsung terduduk. Kemampuan unik dari Dita adalah dia bisa mengontrol gerakan dinding memeknya. Jadi jangan-jangan…Dita tadi sengaja menghambat Reza agar Asep bisa menang? Masa sih? Asep menengok ke arah Dita. Dan sepintas dilihatnya gadis yang memegang rahasianya itu tersenyum penuh arti kepadanya. Hmm, kalau benar Asep harus berterima kasih nanti.
“Yupz! Pemenang games ini adalah Asep dan Dinda! Keduanya berhak mendapatkan reward!” seru Eci

“Yeeeyyyy!” yang lain bertepuk tangan

“Dan reward untuk mereka adalah….”

Chapter 6: Hadiah

Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus! seru Eci sambil bertepuk tangan
Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga! sorak Dinda bahagia
Beuh, malah seneng dia…Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu! balas Reza
Dinda dan para cowok lalu sibuk berbalas ledekan. Sementara Asep tentu kecewa. Kalo gini ceritanya mending gak usah menang deh tadi, pikirnya. Tapi kalau mereka kalah pun, ya tetap saja mereka tidak akan berpasangan lagi. Yah, sudahlah. Mungkin memang takdirnya.
Mas Asep gak usah tampang grogi gitu kalee ujar Dita memecah lamunan Asep
Hmm? O-oh iya Mbak, kaget saya nih sama tiga cewek sekaligus haha Asep mencoba menutupi kekecewaannya
Tenang aja Mas Asep…kita bakal melayani Mas Asep sepenuh hati goda Eci dengan mata berbinar
Cieee Mas Asep jadi raja sehari nih timpal Irma

Reza yang menggamit tangan Dinda berteriak dari pintu belakang Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas
Yoooooo balas Eci tanpa menengok, dan Dinda beserta ketiga pria yang siap mengganyang tubuhnya itu pun menghilang di balik pintu.
Asep sedikit lega dia tidak harus melihat eksekusi Dinda di depan matanya, tapi tetap saja dia merasa cemburu. Dan Asep semakin dongkol ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak punya hak apapun untuk protes.
Mas Asep gak usah pikirin macem-macem, nikmatin aja saran Dita
I-iya Mbak, hehe, grogi saya Asep tahu yang dimaksud Dita adalah tentang Dinda
Ya udah kalo Mas Asep belum panas kita aja yang mulai, ok gals? Aku punya ide ujar Eci sambil berbisik bergantian ke telinga Dita dan Irma. Asep hanya bisa garuk-garuk kepala.

Asep kemudian dibimbing para gadis ke arah kursi panjang di teras belakang. Matahari sudah mulai condong ke barat saat Asep duduk menghadap halaman belakang yang luas. Seperti seorang raja minyak dengan haremnya, Asep diapit oleh Dita dan Irma di kanan kirinya. Oleh kedua gadis itu, tangan Asep diarahkan untuk merangkul bahu mereka. Dengan binal keduanya mulai menciumi leher Asep, membuat pria beruntung itu kegelian.

Ditambah lagi gesekan empuk pabrik susu Irma dan Dita beserta puting mereka yang sudah menegang di kanan-kiri dada Asep. Tangan mereka membimbing tangan Asep yang sedang merangkul mereka untuk meremas payudara keduanya yang tidak sedang menempel di dada Asep. Puas mencumbui leher Asep, Dita dan Irma bergantian mencium mesra bibir Asep, mengajari pria lugu itu french kiss yang panas. Saat salah satunya mencium bibir Asep, yang lain turun mencumbui dada Asep. Kontolnya tak disentuh sama sekali, tapi perlakuan kedua gadis di bagian tubuh lainnya cukup untuk membuat senjata Asep terkokang siap untuk ditembakkan.
Mas Asep susah panasnya tapi kalo udah mood maennya mantep gila..hmmmhh..cuupphh goda Irma di sela-sela cumbuannya.

Tentu ada alasannya kontol Asep tidak mereka sentuh sama sekali. Karena benda yang mereka puja itu adalah jatahnya Eci sekarang. Asep tidak percaya ketika melihat Eci dengan binalnya merangkak ke arah selangkangannya. Di balik kacamata bingkai tebalnya, mata Eci tampak begitu fokus memandangi pedang Asep yang terhunus tegak. Begitu sampai, Eci langsung membenamkan kepalanya yang terbungkus jilbab di selangkangan Asep.

Gadis bertubuh mungil itu menggesekkan wajahnya di batang Asep, persis seperti kucing yang merajuk minta makan dengan cara menggesekkan kepalanya di kaki majikannya. Hembusan nafas Eci begitu terasa di kulit kontol Asep yang sensitif, membuat Asep semakin geli-geli nikmat. Dan itu belum seberapa, karena kemudian Eci mulai menjilati peler Asep dengan lidahnya yang lembut, basah, dan hangat. Jilatan Eci di kulit peler Asep yang tipis begitu nikmat, lalu gadis itu semakin naik, dari pangkal kontol, ke bagian tengah, hingga ke ujung. Dirangsang seperti itu, Asep ingin bersuara mengekspresikan kenikmatannya…tapi tak bisa karena sekarang Dita dan Irma bergantian menyumpal mulut Asep dengan payudara mereka. Asep pun hanya bisa pasrah menyusu bergantian kanan-kiri.

Bibir Eci yang lembut sudah di ujung kontol Asep sekarang. Bergantian mencium dan menjilati kepala kontol itu seperti es krim. Lalu HAP! Rahang Eci terbuka menelan kontol Asep, dan dalam sekejap batang sakti itu sudah terbenam seluruhnya. Karena mulut Eci yang mungil, kontol Asep sampai menyentuh ujung tenggorokan Eci yang lunak dan basah. Sensasi deepthroat ini sungguh membuat Asep yang masih terjepit gunung empuk semakin panas dingin, apalagi kemudian Eci menggerakkan kepalanya maju mundur, menyedot kontol Asep dengan syahdu dari pangkal hingga ke ujung. Bagai burung pelatuk, Eci menggerakkan kepalanya dengan cepat tanpa ampun. Suara sedotan dan hisapan mulut Eci memenuhi tempat itu.
Sluuurrrpp…Phuaahh!

Eci akhirnya melepas mulutnya dari kontol Asep, air liur menetes-netes dari sudut bibirnya, bercampur dengan beberapa helai jembut Asep yang tercabut saking buasnya sepongan Eci.
Ahh gila, sampe masuk ke tenggorokan gue… gumam Eci sambil mengusap-ngusap lehernya. Lalu gadis berkacamata itu berdiri dan menaikkan tubuhnya ke pangkuan Asep.
Saatnya penetrasi.
Ahhh lenguhnya saat kepala kontol Asep menyentuh bibir memeknya
Hnngghhh Eci mengerang sambil memejamkan mata ketika kontol Asep mulai melesak masuk ke memeknya yang mungil dan sempit itu
Oooohhhh…Oohhhh Eci mendesah lega ketika kontol Asep amblas seluruhnya.
Baru masuk ajah, udah enak ginih racaunya sambil gemetar.
Tampaknya Eci orgasme ringan dipenetrasi Asep.

Kontol Asep sudah dirangsang setengah mati, dan bagian atasnya pun tak mau kalah. Dua bukit susu menjepit Asep dari kanan-kiri. Bila salah satunya masuk di mulut, yang lain digesek-gesek ke wajahnya seolah ingin melukis pipi Asep dengan puting susu sebagai kuasnya. Diserang gencar seperti itu, akhirnya mesin Asep panas juga. Ah bodo amat sama si Dinda, mending hajar yang di depan mata ajah! Pikir Asep yang akal sehatnya sudah ditendang jauh-jauh oleh nafsu. Dan inilah yang diharapkan Dita, Irma dan Eci. Tangan Asep yang tadinya pasif, mulai bergerak. Mulanya dia mengelus-elus punggung Dita dan Irma yang membuat kedua gadis itu menggelinjang. Lalu turun ke bawah meremas pantat empuk mereka, tak lupa menepuk-nepuk buntalan lemak menggiurkan itu. Dan tangan Asep semakin turun,

Hingga akhirnya sukses mencucuk memek Dita dan Irma secara bersamaan dengan jarinya.
Ahhh.. Irma mengerang ketika jari Asep menembus belahan memeknya yang sudah sangat basah
Akhirnyaa…Ahhh…Sukseess kita Ir… racau Dita
Iiyaahhh…Ahhh…Kalo udah gini Mas Asep mantep dehh timpal Irma

Menggencarkan serangan, Irma dan Dita saling mendekat dan kedua sahabat itu pun berciuman mesra tanpa tanggung. Ini membuat kepala Asep semakin terjepit payudara mereka. Susu Dita yang montok dan empuk di kanan, dan susu Irma yang sedikit lebih kecil tapi padat dan sekal di kiri. Asep balas menyerang dengan semakin gencar mengobel memek keduanya dengan dua jari. Irma yang paling gampang orgasme pun bobol pertahanannya.
Aduhh..Ahhh..Gua keluar..Ahh..Ditaaaa! Irma menggelinjang, membuat payudaranya yang masih menempel di wajah Asep bergerak liar.
Anjrit, seumur idup belom pernah gua mimpi nih mata nyaris kecolok pentil, pikir Asep. Sementara Irma sedang di awang-awang, Dita menurunkan tubuhnya agar bisa mencium bibir Asep. Sambutan ciuman Asep meyakinkannya bahwa keraguan Asep sudah hilang.

Di bawah sana. Eci dengan khidmat menggerakkan tubuh mungilnya di atas kontol Asep. Naik-turun, maju-mundur, diputar, digoyang, dikocok semuanya dia kerahkan. Dengan memek mungilnya gerakan apapun terhadap kontol Asep memberi Eci kenikmatan tiada tara. Bahkan dengan hanya diam pun, desakan kontol Asep yang sampai menyentuh bibir rahimnya sudah terasa nikmat; Tapi Eci ingin lebih dan lebih. Gerakan tubuhnya yang liar membuat buah dadanya memantul-mantul liar, keringat mengalir deras di tubuhnya walau cuaca mulai sejuk sore itu. Dan suasana sore yang damai itu pun dipenuhi suara kecipak memek banjir Eci yang sedang menggesek kontol Asep, diiringi lenguhan, erangan, desahan, dan pekikan nikmat ketiga gadis berjilbab itu. Eci terus mengejar kenikmatannya hingga akhirnya tubuh mungilnya tersentak, matanya terpejam dengan erangan nikmat keluar dari mulutnya.
Gaahhhhhh..Ahhhhh! erangnya sambil mengejang di atas pangkuan Asep.
Asep sukses mengantar gadis mungil itu ke puncak kenikmatannya, tapi hebatnya gempuran dahsyat mulut dan memek Eci tidak cukup untuk membuatnya muncrat.
Eci menarik tubuhnya, melepas memek hangatnya yang banjir bandang dari kontol Asep yang masih sangat keras. Masih ngos-ngosan, dia merebahkan tubuhnya di sebelah Dita, menggumam tak jelas.
Mas Asep giliran aku yaaa bisik Irma manja di telinga Asep
Irma lalu berdiri dan menarik tangan Asep agar ikut berdiri. Sekilas Asep melirik ke arah Dita, terlihat olehnya gadis itu sedang memeluk dan menggerayangi Eci yang masih lemas.

Setelah saling berciuman dalam posisi berdiri, Irma berlutut di depan Asep.
Hmmhhhm cupphh lidah Irma menjelajahi sekujur batang Asep. Irma masih merasakan cairan memek Eci di kontol Asep, dan bukannya jijik, irma justru tampak senang. Seperti sedang menjilati es krim batangan, Irma terlihat begitu menikmati mengulum batang kemaluan asep. Sesekali mata bulatnya menatap binal ke mata Asep, membuat Asep semakin bergairah.
Ahhh…Uhhh…Enakh bangethh Mbakkhh erang Asep yang merasa nikmat luar biasa
Slurrphh..Puahh..nih udah aku bersihin ya Maaas ujar Irma dengan manja
Gadis jangkung itu berdiri kembali, memeluk Asep dan melingkarkan tangannya di leher Asep. Saat Asep meremas-remas pantat sekalnya, Irma menaikkan salah satu kakinya hingga lubang memeknya yang basah total merekah, siap untuk ditusuk. Seperti lomba Ekiben tadi, Asep menggunakan sebelah tangannya untuk mengarahkan kontolnya ke lubang nikmat Irma.
BLESH!
Auhhhh…Mas Aseeppphhh! Irma melenguh nikmat dengan suara serak-serak basahnya.

Asep mengira Irma ingin disetubuhi seperti ini jadi mulai menggerakkan pinggulnya untuk menggenjot memek Irma. Tapi tanpa disangkanya Irma meloncat secara tiba-tiba hingga tubuh Irma nemplok di pangkuannya, persis seperti posisi lomba tadi. Untung saja waktu itu Asep sedang meremas pantat bulat Irma hingga dia bisa menangkap tubuh semampai gadis itu. Belum lama tadi Asep mengerahkan tenaganya hingga kelelahan bolak-balik halaman sambil menggendong Dinda, tapi Asep tidak keberatan harus kembali mengambil posisi ini. Instingnya yang sudah on langsung menggempur memek Irma dengan gencar bagai piston. Irma yang menggantungkan tubuhnya di badan Asep pun terlonjak-lonjak seiring pompaan kontol Asep yang ganas.

Irma terus mengerang-erang ah dan oh tanpa henti sambil menengadah. Dalam posisi seperti ini, Irma memasrahkan tubuhnya sepenuhnya di tangan Asep. Sekarang dia bagai hanya sebuah boneka yang terlempar-lempar oleh sodokan brutal kontol Asep di memeknya. Irma sangat menikmati posisinya yang tak berdaya, takluk, dan pasrah dikuasai oleh seorang pejantan yang mengobrak-abrik tubuhnya tanpa bisa melawan. Sedangkan Asep begitu menikmati dominasinya, egonya sebagai seorang lelaki terpuaskan saat dia bisa menguasai tubuh gadis cantik berjilbab seperti Irma sepenuhnya.
Ahhh…Oohhhh…Ahhh! Irma terus mendesah, mengerang, dengan penuh kepasrahan dan kenikmatan. Tubuhnya yang indah seperti model bermandikan keringat. Apalagi Asep, tanpa harus berjalan bolak-balik seperti lomba tadi dan hanya diam di tempat sambil menggenjot pun posisi ini sudah melelahkan. Tapi Asep sudah di puncak birahinya sekarang. Nafsunya untuk menyikat tubuh gadis-gadis yang memancing birahinya sudah menguasai akal sehatnya. Tadi sempat terkekang karena Eci mengambil kendali sementara dia disandera Dita dan Irma, sekarang dia bebas. Asep akan memberi pelajaran kepada mereka yang sudah memancing birahinya hingga nyaris gila.

Dan tiba-tiba terdengar pekikan Eci. Asep yang melirik ke arahnya kaget melihat Dita sudah membenamkan kepalanya di selangkangan Eci. Tampaknya Dita sedang asyik menyedot cairan cinta rekan kerja seniornya itu, karena suara seruput yang erotis terdengar sampai ke telinga Asep. Melihat pemandangan permainan sesama jenis itu, Asep semakin bernafsu. Cewek-cewek binal ini harus dihukum! Tekad Asep. Sambil terus menggendong dan menggenjot Irma, Asep melangkah mendekati dinding tembok tak jauh dari situ. Begitu sampai, Asep langsung memepet tubuh ke tembok. Irma memekik saat tubuhnya dengan seenaknya dihempas Asep ke tembok. Pekikan kaget, sakit, tapi juga nikmat. Sekarang Irma dijepit tubuh Asep dan tembok, membuat Asep bisa semakin leluasa dan gencar menyodok kontolnya dalam memek Irma. Ibarat ditindih dalam posisi misionaris, tapi dalam posisi vertikal.
Ahh Mas Asephhh yang kencenggg…Terusss…Ahhh! Irma memohon, merengek agar Asep terus menyetubuhinya semakin cepat, semakin kasar, semakin tidak manusiawi. Kaki Irma sudah tidak memijak tanah, tubuhnya hanya ditopang oleh kontol Asep. Perasaan tidak berdaya ini membuai angan gadis modis berjilbab itu, membuatnya ketagihan. Kepasrahan Irma adalah kenikmatan buat Asep. Irma yang tak berdaya jadi sasaran empuk bagi kontol kerasnya. Irma hanya megap-megap, merem-melek tak berdaya memeknya dihujam habis-habisan oleh kontol perkasa Asep.

Ahhhhh…Ohhhh! keduanya terus macu birahi dengan liar, tak peduli dengan keringat yang mengucur membanjiri tubuh mereka. Sementara Irma juga semakin banjir di liang nikmatnya, bersiap untuk orgasme super dahsyat yang segera tiba.

Hhhaaaahhhhh…Mas Aseppppphhhh! Irma berteriak keras memanggil namanya, dan insting Asep pun langsung bekerja mendeteksi datangnya orgasme Irma. Dia mengganti tusukan-tusukan pendeknya yang seperti piston dengan tusukan-tusukan panjang dengan hentakan kuat. Tusukan Asep yang begitu dalam memicu gelombang kenikmatan di pusat syaraf Irma.
Oooouuhhhhhhhhh! Irma melolong merasakan orgasme maksimalnya. Tubuhnya menggelepar dalam pelukan Asep. Begitu seluruh otot di tubuhnya selesai berkontraksi, Irma merasa tubuh dan pikirannya begitu damai dan ringan.
Hahhh…hahh dengan nafas masih memburu, Irma menatap mata Asep dengan matanya yang bulat indah. Dia memandangi sang pejantan yang sudah mempecundangi tubuhnya itu dengan pandangan antara mesra, takjub, dan pasrah. Tak terpikirkan sekalipun pacarnya sendiri, saat ini insting primitif liar Irma sebagai seorang wanita lebih tergila-gila dengan pemilik kontol perkasa yang memberinya kenikmatan duniawi. Apalagi kontol itu masih menancap keras dalam memeknya.

Sang pejantan sendiri begitu lega melihat betinanya takluk di pelukannya. Ego Asep melambung tinggi. Ditatap dengan penuh kepasrahan oleh Irma, Asep tersenyum sombong sambil sesekali menyundul-nyundul memek Irma dengan kontolnya.
Iihh Mas Aseeeepp… desah Irma sambil terus menatap mata Asep dengan pasrah

Tapi Asep si pejantan tak punya waktu untuk terus bermesraan dengan Irma. Dia masih punya satu target lagi untuk dihukum. Irma melenguh kecewa ketika kontol Asep tercabut dari lubang memeknya. Gadis itu terduduk lemas, bersandar di dinding melihat Asep mendekati Dita yang saat itu sedang ber-69 dengan Eci. Dita berada di atas, asyik menjilati memek dan kelentit Eci di bawahnya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Asep. Dibiarkannya pantatnya menungging membelakangi Asep dan Irma, memperlihatkan pantat dan belahan memeknya yang sedang dijilati Eci. Hingga tiba-tiba…
Ahhhh! Dita memekik ketika memeknya tiba-tiba tertusuk benda keras nan panjang milik Asep
PLAK! PLAK! Asep lalu menampar pantat putih dan montok Dita, menghukum gadis yang terlihat alim tapi sebenarnya super binal itu. Tadi siang atas permintaan Dita, Asep menyetubuhinya dengan pelan-pelan dan mesra. Tapi sekarang dia ingin mencoba kebalikannya, seperti yang dilakukan Jejen di malam pertama. Toh, Dita sendiri bilang dia suka main kasar. Asep ingin melihat sebinal apa gadis yang sudah mengetahui rahasianya itu. Dita menjerit-jerit nikmat ketika Asep semakin gencar menggenjot memeknya. Suara kecipak dari memek basah Dita yang dipompa oleh kontol Asep mengiringi jeritannya.

Sibuk menikmati genjotan Asep, Dita melupakan memek Eci yang tadi dilahapnya. Tapi Eci tak keberatan, karena dia disuguhi pemandangan fantastis. Tepat di depan mukanya, dia bisa melihat dari dekat kontol Asep yang keluar masuk memek tembem Dita. Cairan cinta Dita yang melimpah memercik di setiap tusukan kontol Asep, membasahi wajah dan kacamata Eci seperti hujan.

Dengan lahap Eci menjilat dan menelan setiap percikan cairan memek Dita yang kebetulan hinggap di mulutnya. Lalu Eci mendongakkan kepalanya dan mengulurkan lidahnya sepanjang mungkin, hingga mencapai kelentit Dita. Sehingga Dita semakin histeris saat merasakan kelentitnya dijilat Eci, padahal memeknya sendiri sedang digenjot kontol Asep. Dita yang kelabakan ambruk menindih tubuh Eci. Kepalanya terbenam dalam jembut Eci. Tapi Asep tidak memberinya ampun. Dia ingin menaklukkan Dita sebelum gadis itu bisa membalas dengan kekuatan kedutan memek khasnya. Asep terus menghantam kemaluan Dita dari belakang. Sesekali dia menepuk, menampar, meremas, dan mempermainkan pantat empuk Dita hingga yang tadinya putih mulus menjadi kemerahan.
Ngghhhahhhhh Mas Aseeppp… Dita melenguh setelah berhasil mengangkat kepalanya dari selangkangan Eci.
Dita memang tidak bohong, dia sangat menikmati percintaan mesra dengan Asep tadi siang, dia senang memegang kendali, tapi dia juga seperti Irma ketagihan dengan nikmatnya memasrahkan tubuhnya untuk didominasi oleh para pria. Apalagi oleh para pria di bawah mereka seperti Asep, Reza, dan yang lainnya yang sehari-hari biasa mereka suruh-suruh. Membayangkannya saja sudah membuat memek Dita basah.

Dirinya yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama oleh keluarganya, dirinya yang tidak pernah pacaran, dirinya yang selalu berbusana sopan, dirinya yang selalu menjaga pandangan…perbedaan yang begitu mencolok antara kesehariannya dengan Dita yang saat ini telanjang bulat, menungging di atas memek wanita lain sedangkan alat kelaminnya yang mestinya suci itu dihajar habis-habisan oleh kontol pria yang posisinya lebih rendah darinya. Perbedaan yang begitu kontras, tapi inilah yang dicari dan diinginkan Dita. Mendominasi atau didominasi tak masalah, yang penting Dita bisa lari dari kehidupannya yang biasa.

Dita kembali memekik ketika Asep menarik pinggangnya dengan tiba-tiba. Asep membawa gadis yang memeknya masih menancap di kontolnya itu agak jauh dari Eci. Dia lalu merebahkan Dita dengan posisi miring, rupanya Asep ingin mencoba posisi baru yang belum pernah dicobanya. Meniru Ari malam tadi yang menyetubuhi Dinda dengan posisi menyamping, Asep lalu mulai menggerakkan pinggulnya untuk kembali menggenjot memek Dita.

Tangannya memeluk Dita erat sambil meremas pabrik susu gadis itu. Dita bisa merasakan hembusan nafas Asep yang memburu di dekat telinganya yang masih terbungkus jilbab. Disetubuhi sambil dipeluk erat seperti ini, insting alami Dita sebagai wanita bangkit. Kenikmatan tiada tara didapatnya justru saat dia dalam posisi tak berdaya. Apapun yang pejantannya akan lakukan, Dita akan terima. Karena dia adalah wanita, yang ingin disetubuhi dan dibuahi. Asep juga saat itu sudah dikuasai oleh instingnya sebagai seorang pria. Klop sudah.

Asep menggagahi Dita dalam posisi ini cukup lama, sebelum dia kembali mengganti posisi. Keringat Dita bercucuran saat Asep menyeret tubuhnya yang sudah lemas bangun. Kali ini Asep bersimpuh dengan Dita juga ikut bersimpuh di depannya dengan posisi membelakangi Asep. Tubuh Dita miring ke depan sehingga Asep bebas merojok lubang memeknya dari belakang. Agar tak jatuh ke depan, tubuh Dita ditahan tangan Asep yang sedang mencengkram kedua payudaranya. Nampaknya Asep ingin total menyetubuhi Dita dari belakang dengan brutal dalam sesi ini, setelah sebelumnya siang tadi mereka saling berhadapan dan bercinta dengan mesra.

Dita yang sudah digenjot dari tadi mulai kewalahan. Kulit tubuh dan wajahnya yang biasanya putih mulus tampak memerah akibat aktivitas fisik dan rangsangan seksual yang intens. Tampang kalemnya nampak kusut, jilbabnya sudah acak-acakan dan lepek oleh keringat. Keringat yang mengucur ditubuhnya tidak usah ditanya lagi. Asep tak peduli. Dia mulai menggenjot memek Dita dengan brutal sementara tangannya meremas-remas bukit susu Dita. Dita mengerang pasrah, merasakan kenikmatan yang terakumulasi dalam dirinya. Sesaat lagi, kenikmatan itu akan meledak dahsyat, melemparakannya ke langit ke tujuh. Memek Dita mulai berkontraksi tanpa kendali, pikirannya sudah tak fokus sehingga dia tidak bisa mengendalikan kemampuan khususnya itu.
Ahhh! Mas Asep…Mas Aseeep…Mas Aseeeeppp! Dita berteriak histeris
Dan Asep pun paham. Seperti Irma tadi, Asep mengganti tusukan-tusukan cepat tapi dangkalnya dengan tusukan panjang dengan hentakan kuat. Dan di ujung hentakan kontol Asep itu, Dita pun meledak.

Ahhhhhrrgghhhhhhhhhhhhhhhh! Dita menjerit kencang, tubuhnya tersentak-sentak.
Otaknya serasa kosong. Cahaya menyilaukan seolah menutupi semuanya. Seperti Irma, Dita pun merasakan dirinya begitu damai selepas orgasme.

Nghhhhh Dita melenguh lirih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Memeknya terus berkedut tanpa henti, membasahi kontol Asep yang masih betah di sana dengan cairan cinta. Dita terjerembab pasrah saat Asep melepas cengkraman di payudaranya. Ini membuat kontol Asep terlepas keluar dari memeknya. Selesai dengan Dita, Asep memandang sekeliling. Hampir tak percaya, Asep sadar dia sukses memuaskan tiga wanita sekaligus, memporak-porandakan tubuh mereka hingga pasrah tak berdaya. Dan hebatnya Asep sendiri belum keluar sekalipun. Gila…Manteb banget gue, batinnya.
Kontolnya yang masih berlumur lendir Dita terus mengacung tegak. Sebenarnya pertahanan Asep sudah hampir jebol tadi, setelah bersetubuh dengan tiga gadis berurutan. Apalagi saat memek Dita mulai berkedut-kedut liar. Tapi untungnya Dita orgasme duluan.
Nah sekarang di mana Asep akan menumpahkan benihnya? Asep memandang Dita yang tertelungkup di lantai.
Baru aja tadi siang buang pejuh di situ, pikirnya. Lalu ke Irma yang terduduk lemas bersandar di dinding. Boleh nih, tapi tadi malem juga udah, timbang Asep. Dan pandangan Asep kemudian tertuju ke Eci yang berbaring sambil mengangkang. Belahan memeknya tampak mengkilat, penuh oleh cairan cinta. Asep baru ingat, dia belum pernah crot di dalam memek Eci.

Nggahhhh! Eci memekik kaget ketika Asep tiba-tiba menindih tubuh mungilnya. Tanpa basa-basi Asep pun menusukkan kontolnya ke dalam memek sempit Eci, dalam satu tusukan kuat yang langsung menyundul bibir rahim gadis berkacamata itu. Memek Eci yang banjir memudahkan penetrasi Asep sehingga dia tidak kesulitan dalam menembus lubang sempit Eci. Tapi buat Eci, ditusuk benda sebesar kontol Asep dalam satu tusukan sensasinya begitu luar biasa dan meng-overload syaraf nikmatnya. Hingga Eci pun kembali orgasme hanya dengan satu tusukan.
Nggrrhhhhhhhhaahhhhhh! Mas Aseeeppppp!
Asep yang mengejar kenikmatannya sendiri tak peduli. Dia terus menggenjot Eci saat gadis itu masih menggelinjang memekik-mekik nikmat. Terus menusuk-nusuk memek Eci tanpa ampun sambil menindih tubuh gadis itu, yang membuat puting susu Eci menggesek-gesek dada Asep.
Dan tak lama Asep merasa tubuhnya mulai menghangat, sesuatu menjalar dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya, dan rasa nikmat luar biasa memenuhi kontolnya yang terbenam dalam memek Eci. Rasa nikmat itu mengalir ke semua bagian tubuh yang lain, mengisi kepala Asep dengan rasa damai tak terkira.
CROT CROT CROT!
Hngggrhkkkk! Asep menggeram, diiringi jeritan histeris Eci. Gadis itu masih orgasme saat Asep menyemprot rahimnya dengan cairan kental hangat, membuat orgasme gadis itu semakin menjadi-jadi.
Asep tidak menyadari hal itu. Karena dia masih tenggelam dalam sisa kenikmatan orgasmenya. Setelah rasa itu hilang dan nafasnya mulai tenang dia mencabut kontolnya dari memek Eci. Tubuh gadis itu masih tersentak-sentak saat lubang nikmatnya sudah tak disumbat kontol Asep lagi.
Asep kembali berdiri dan memandang sekeliling. Lengkap sudah, dia sudah membuang pejunya sembarangan dalam memek keempat gadis itu. Dinda, Irma, Dita, dan terakhir tadi Eci. Egonya sebagai lelaki melambung tinggi. Sangat puas dengan pencapaiannya walaupun dia hanya keluar sekali. Tubuhnya serasa jauh lebih lemas dibandingkan lomba tadi siang. Dengan sempoyongan, Asep mendekati Irma untuk menuntaskan hasratnya yang terakhir.

Mbak, bersihin lagi dong perintahnya
Irma menuruti tanpa protes. Dia mengulum kontol Asep yang mulai melemas ke pangkalnya, menggunakan mulut dan lidahnya untuk membersihkan kontol Asep dari berbagai cairan, termasuk miliknya sendiri. Asep ingin menunjukkan dominasinya yang terakhir dengan menyuruh gadis itu membersihkan kontolnya yang sudah memperbudak mereka.
…Udah Mas Asep… gumam Irma lirih saat kontol Asep terlepas dari mulutnya
Makasih Mbak
Asep dengan sempoyongan meninggalkan Irma lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah di kursi teras.
Manteb banget gue, pikirnya memuji diri sendiri. Sampai saat ini Dinda tak terbersit sekalipun dalam pikirannya. Bahkan dia tidak sadar, sebagai pemenang lomba sebenarnya dia bisa menggunakan haknya untuk menyuruh ketiga gadis itu yang memegang kendali. Dia tinggal diam dan menikmati. Tapi rangsangan ketiga gadis itu telah membuat akal sehatnya ditendang keluar oleh insting dan nafsu binatangnya.
Lelah dan puas, Asep pun tertidur.
Samar-samar Asep mendengar Eci meracau Rencana kita berhasil…Gals…
***

Woi Sep, bangun! Udah maghrib noh
Asep terbangun oleh suara Reza. Langit sudah gelap dengan semburat kuning tua sedikit tersisa di barat.
Mandi sono gih, kita lagi nunggu Mbak Eci sama si Jejen nyari makan
Lo udah mandi Za?
Udah lah, gua udah pake baju nih jawab Reza
Dengan gontai Asep berjalan kamar mandi. Masih bugil sambil menenteng bajunya yang dia lepas di teras siang tadi. Di ruang tengah Asep mendapati Dinda duduk sendirian di sofa sambil mengutak-atik HPnya. Gadis itu sudah berpakaian rapih dengan pakaian santai. Asep bahkan bisa samar-samar mencium bau shampo dan body lotion khas cewek. Di depan Dinda yang berpakaian, entah kenapa Asep merasa malu dan jengah bertelanjang. Padahal sewaktu mereka bugil sama-sama, rasa itu tidak ada.
Cieeee yang abis maen sama tigaan baru bangun nih goda Dinda tanpa rasa bersalah
Iye nih, situ udah rapih ajah jawab Asep berbasa-basi
Iiya, abis badan aku lengket disemburin peju tiga orang barbar itu ujar Dinda cuek
Sial, gua gak pengen denger detilnya, rutuk Asep dalam hati.
Udah sono mandi gih, anduknya ambil yang dilipet di meja depan pintu kamar mandi
Iya iya

Siraman air dingin perlahan mengembalikan akal sehat Asep yang sempat hilang. Dia mengingat-ingat reward yang dia dapat. Bisa menggarap tiga orang cewek sekaligus, benar-benar luar biasa.
Apalagi kalo Dinda juga ikut berempat, wih mantap, lamunnya.
Tapi Asep tiba-tiba teringat sesuatu. Tadi dia menyetubuhi Dita dengan kasar, langsung colok tanpa sepengetahuan Dita dan sampai menampar-nampar pantatnya. Padahal Dita sudah cukup baik mau menyimpan rahasianya dan mendukung perasaannya terhadap Dinda. Asep merasa bersalah, memang sih dia ingat kalau Dita bilang dia juga suka dikasarin.

Tapi kalau yang tadi terlalu berlebihan, bisa jadi Dita sakit hati dan melaporkan rahasianya ke Eci. Dan ngomong-ngomong soal Eci, tadi siang dia merasa sedikit takut dengan Eci mendengar cerita Ari; tapi tadi dengan seenaknya Asep buang peju ke dalam rahim Eci tanpa permisi. Bagaimana kalau dia marah? Asep mengutuk dirinya yang selalu kehilangan akal sehat sewaktu nafsu mengambil alih.
Gawat ini mah, pikir Asep.
Suara ketukan di pintu mengagetkannya
Woi Sep! Cepetan siah, mules nih! teriak Ari di balik pintu

Asep adalah yang terakhir mandi. Saat Eci dan Jejen berangkat mencari makan malam, yang lain segera beristirahat, mandi membasuh semua keringat dan cairan lain yang menempel di tubuh mereka. Dinda dan Irma lalu sibuk dengan HP mereka, berbalas pesan dengan pacar masing-masing. Reza dan Ari duduk di ruang tengah menyaksikan pertandingan sepak bola di TV. Sementara Asep nongkrong di halaman belakang sambil merokok. Dia memandang halaman luas yang jadi tempat pesta gila mereka tadi siang. Suara jangkrik menggantikan erangan dan lenguhan penuh nafsu di tempat itu.
Mas Asep…
Asep menengok ke arah suara yang memanggilnya. Dita tampak manis dengan piyama putih lengan panjang dan jilbab warna pink muda. Gadis itu lalu duduk di sebelah Asep yang segera mematikan rokoknya.
Mbak, m-maaf ya yang tadi sore ujar Asep dengan muka serius
Kok minta maaf?
Abis…Setelah sayah pikir-pikir lagi kok kayaknya saya kasar banget yah maennya sama kalian bertiga
Dita malah tertawa mendengar pengakuan Asep
Ya ampun Mas Asep ini kayak punya kepribadian ganda, beda banget sama yang tadi ngabisin kita
Yah apalah, pokoknya saya…Trus tadi juga crot di dalem Mbak Eci gak bilang-bilang…Takut sayah…
Iih Mas Asep udah ah, kita udah berkali-kali maen, udah tau luar dalam masa masih ga enakan sih, lagian kita seneng…Kita bisa ngeliat sisi liarnya Mas Asep hehe…Sukses deh rencana si Mpok potong Dita sambil tertawa
Kalo soal si Mpok Eci, masa Mas Asep belom tau tuh anak maniaknya kayak gimana sambungnya
Asep menggaruk-garuk kepalanya Iya juga ya…
Beneran gua dimanfaatin mereka kalo gini, pikir Asep. Dia pikir dia sudah menaklukkan mereka, tak tahunya malah dia yang sengaja dipancing oleh para gadis itu. Dan dia pun menyambar umpan mereka dengan lahap.

Mas Asep kenapa gak ikut nonton bola sama Reza & Ari? Dita mengalihkan pembicaraan
Gak suka liga lokal saya mah…Mbak Dita gak ngumpul sama yang lain?
Si Irma ama Dinda lagi sibuk BBM-an sama pacarnya kali, aku ya pasti dikacangin
Ooh
Gimana Mas Asep, udah mulai biasa? tanya Dita
Yah, masih sulit sih Mbak, saya masih grogi nih. Bener kata Mbak Irma sayah susah panasnya hehe
Karena ada Dinda? tanya Dita dengan suara pelan dan sedikit menengok ke belakang memastikan tidak ada yang mencuri dengar
Yaa itu salah satunya Mbak…Saya jadi rada malu, yang lain rela bagi-bagi tapi saya egois gini pengen dia buat saya seorang Asep curhat dengan polosnya
Aku ngerti kok, Mas Asep kan sukanya udah dari dulu kan sebelum di sini. Tapi ada alasannya Mbak Eci bikin peraturan gak boleh bawa perasaan, buat kenyamanan kita juga jelas Dita
Biar gak ada yang rebutan dan monopoli kayak sayah gitu Mbak?
Dita tampak berpikir Iya, itu juga, tapi lebih ke arah ngebentuk mindset kita para cewek. Tanpa ngebawa perasaan kita nganggap acara ini cuman permainan fisik, hepi-hepi buat ngelepas stres. Jadi aku gak perlu mikir emang aku rela ya dijamah sama Mas Jejen misalnya. Atau Dinda dan Irma ngerasa bersalah karena ngentotin cowok selain pacar mereka gitu
Asep manggut-manggut, sekarang dia mendapat jawaban kenapa para gadis itu dengan rela dan cueknya membiarkan tubuh mereka dimainkan Asep dan yang lain, biarpun masih tidak masuk di akal bagi Asep. Entahlah, mungkin dia sendiri masih lugu dan kampungan, pikir Asep. Pikirannya yang polos tidak bisa connect dengan para gadis kota itu. Masih ada pertanyaan soal pandangan mereka soal konsekuensi dosa dan moral tapi Asep memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Kalo soal dosa dan moral mah itu pandangan pribadi, batin Asep.

Jadi kalo saya gak sampe bikin gak nyaman yang lain, trus gak ngemonopoli Dinda, gak papa kan saya punya rasa? tanya Asep memastikan
Ya kalo Mas Asep rela cemburu terus dan nanggung beban sendiri mikirin dia terus
Ya jadi sayah harus gimana Mbak? Asep garuk-garuk kepala
Hmm? Aku gak bilang itu gak baik Mas Asep…Aku…Udah lama gak ngerasain cemburu dan rasanya kepikiran terus sama orang yang aku suka jawab Dita dengan ekspresi hampa
Lho lho lho, kok malah dia yang curhat?

Bonus Chapter: Eksekusi Dinda (Part 1: Foreplay)

Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus! Seru Eci yang membuat jantung Dinda berdetak lebih kencang. Antara senang, penasaran, dan khawatir. Bagaimana tidak, selama ini Dinda belum pernah bermain seks segila itu. Sebelum Asep bergabung, jumlah cowok di grup itu lebih sedikit dari ceweknya. Dan Dinda kalah bersaing dengan Eci atau Dita yang lebih agresif. Jadi paling gila dia hanya pernah dihajar dua orang sekaligus, itu pun tidak full.
Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga! Dinda bersorak memasang tampang pede
Beuh, malah seneng dia…Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu! ledek Reza
Hayoh siah mun kuat mah tantang Dinda membalas ledekannya, berpura-pura tegar
Anjirr, nantang ieu awewe teh timpal Jejen
Hayu lah, hajar! Ari yang biasanya diam ikut-ikutan
Sekilas Dinda memandang Asep. Dilihatnya pria itu hanya terdiam sementara gadis yang lain heboh. Pikir Dinda, pasti Asep juga bingung disuguhi tiga memek sekaligus. Dan Dinda sendiri tak tahu seperti apa nantinya tiga kontol itu akan mengaduk-aduk tubuhnya.

Reza adalah yang paling senang mendapat kesempatan mengeroyok Dinda. Pria bergigi tongos itu memang paling senang menggoda Dinda. Dia sering menyebut-nyebut nama pacar Dinda di depan gadis itu, yang sering membuat Dinda manyun. Sekarang dengan bantuan Jejen dan Ari, dia akan membuat gadis manis itu takluk dengan keperkasaan mereka. Lumayan buat bahan ledekan mereka nanti.
Eh gimana kalo kita maen di kamar atas aja yuk saran Reza sambil nyengir lebar
Hayulah, nyeri bujur aing yeuh, hayang maen di kasur Jejen setuju
Emang boleh yah? tanya Dinda ragu
Pasti boleh lah Reza menggamit tangan Dinda lalu berjalan ke arah pintu belakang
Ketika sampai di sana Reza berteriak Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas
Yoooooo balas Eci tanpa menengok

Dinda menurut saja membiarkan dirinya digiring Reza masuk. Sepanjang jalan Jejen dan Ari iseng mencubiti pantatnya, membuat Dinda harus menepis tangan-tangan jahil mereka. Tapi tampang cemberut Dinda malah membuat keusilan Jejen dan Ari menjadi-jadi. Dinda sendiri semakin masuk ke dalam rumah, semakin jauh dari cewek yang lain jantungnya semakin berdebar.

Dia merasa menjadi satu-satunya perempuan di villa itu, hanya dengan tiga laki-laki yang siap memangsanya. Dan memang itulah tujuan Reza mengisolir Dinda dari yang lain. Bila tiga gadis yang lain masih dalam pandangan, Dinda akan merasa aman. Tapi sekarang, sendirian terpisah dari yang lain Dinda akan merasakan ketegangan tambahan. Dia akan merasakan sensasi baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Darah Dinda berdesir. Sejuta kemungkinan yang akan terjadi nanti berseliweran di kepalanya yang masih tertutup jilbab. Tapi segala ketidakpastian itu malah membangkitkan birahinya. Perlahan memeknya mulai basah, puting susunya yang berwarna coklat muda kembali mengeras. Tubuh bugilnya serasa menghangat, seluruh kulitnya terasa lebih sensitif.
Mereka pun sampai di kamar di lantai 2. Gulp. Dinda menelan ludah. Inilah saatnya.
Ceu, duduk di situ Reza mengarahkan Dinda untuk duduk di ujung ranjang.
Dinda menurut. Mencoba menenangkan dirinya, tapi diamnya Dinda jadi perhatian para pria.
Ieu awewe naha diem wae? goda Jejen yang mendekati dari kanan
Deg-degan pasti timpal Ari dari kiri
Nggak kalee tukas Dinda cepat pura-pura tenang
Reza mengeluarkan jurus andalannya Serasa waktu mau diperawanin si Anto ya Ceu?

Dinda langsung merengut, Enak aja! tak suka nama pacarnya disebut-sebut
Reza yang dari tadi berdiri di depan Dinda nyengir lebar, lalu dengan tiba-tiba Reza mengangkangkan kaki Dinda dan dengan satu gerakan langsung mencaplok selangkangan pacar Anto itu dengan bibir tongosnya.
Kyaaaaa! Dinda memekik kaget, dan di saat bersamaan Jejen dan Ari menyerbu dari kanan-kiri membuat gadis itu tak bisa bergerak. Tangan Jejen dan Ari langsung menjelajahi tubuh Dinda, membuatnya menggelinjang geli-geli nikmat. Payudara mungilnya yang sensitif diremas-remas tanpa ampun.

Putingnya yang sudah mengeras dari tadi dicubit, dipilin, digesek, dipelintir, ditarik sesuka hati. Sementara lidah Reza menjilat-jilat bibir memek Dinda, menyapu lubang kawin gadis berjilbab dengan bibir kasarnya. Liur Reza bercampur cairan cinta Dinda yang terus melimpah akibat dirangsang dari semua sisi. Tak dipedulikannya helaian jembut Dinda yang ikut tercabut saat Reza asyik menyantap kerang mentah basah yang nikmat itu.

Dinda yang kelabakan hanya bisa terpejam dan mendesah-desah menikmati serbuan dari ketiga lelaki. Dia hanya bisa pasrah ketika salah satu pria di sampingnya menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Di saat yang bersamaan di sisi lain, Dinda merasakan sensasi bibir tebal penuh liur di salah satu puting susunya.
Hmmmhhpppphhhmmm lenguhan nikmat Dinda tertahan oleh bibir Jejen yang melumat bibirnya penuh nafsu. Lidah Jejen menari-nari dalam mulut Dinda, memaksa gadis itu menurut untuk bertukar liur dengan Jejen.

Di bawah sana, lidah Reza semakin masuk ke dalam celah sempit Dinda, sementara bibir atasnya sesekali menyapu kelentit Dinda. Reza menyedot lubang basah Dinda bagai vacuum cleaner. Pria itu memang ahli dalam urusan menyantap memek. Irma saja sudah dibuatnya ketagihan. Walaupun dilarang tapi Irma sering mencuri waktu di kantor, menyediakan memeknya untuk dilahap oleh Reza. Sekarang selain serangan lidah maut Reza, Dinda dikeroyok kanan kiri. Giliran Ari yang mencumbui bibirnya sedangkan Jejen dengan brutal mengenyot salah satu bukit susu Dinda dengan tangannya seenaknya memilin puting susu bukit yang lain.

Dinda yang sering bercinta dengan pacarnya dan berkali-kali ikut pesta liar itu baru pertama kali merasakan memeknya begitu banjir. Serangan bertubi-tubi dari segala arah membuat tubuhnya tak mampu menahan gelombang kenikmatan yang mendera pusat syarafnya. Niatnya untuk menjaga imej agar tidak jadi bahan ledekan di kemudian hari oleh para cowok terlupakan. Akhirnya bendungan itu jebol juga.
Mmmppnnghhhhaaaaaahhhhhhhhhh! Dinda sampai harus melepas bibirnya dari pagutan Ari agar bisa berteriak mengekspresikan orgasme dahsyatnya.
Air bah mengalir deras dari lubang memeknya yang langsung diseruput oleh Reza dengan kuat bagai lintah. Tubuh Dinda tersentak-sentak dalam pelukan Jejen dan Ari merasakan sisa kenikmatan.
Enak eta memek Za? tanya Jejen
Segerrr! jawab Reza sambil menyeringai lebar
Dinda yang bersandar tak berdaya di tubuh Jejen dan Ari diam saja, mengatur nafas dan detak jantungnya. Dibiarkannya kakinya tetap mengangkang walaupun kepala Reza sudah tak disitu. Selangkangan Dinda benar-benar banjir, dengan cairan cintanya sendiri dan juga liur Reza.
Jiah, masa gini doang udah KO, mana tadi yang nantangin kita goda Reza melihat wajah sayu Dinda yang habis didera nikmatnya orgasme.
Licik ih kalian mah, aku dikeroyok gini Dinda menatap Reza dengan mata indahnya mencoba membela diri.
Ya masa kita maen satu-satu giliran, gak rame atuh protes Ari sambil membelai payudara Dinda pelan.
Heu-euh, sasakali dikeroyok atuh ngarasakeun timpal Jejen sambil menjawil puting Dinda yang masih mengacung tegak.

Dalam hati sebenarnya Dinda merasakan excitement luar biasa. Sensasi orgasmenya tadi benar-benar luar biasa. Jantungnya masih berdebar, walau rasa takutnya sudah hilang. Diganti rasa penasaran dengan kenikmatan apalagi yang akan dia dapat nanti. Tapi dia masih jual mahal. Gengsi dong kalau langsung pasrah.
Udah ah, terus ngapain? tanyanya
Tadi kita udah bikin lo nikmat, sekarang gantian dong
Owhh, mau pada disepong nih, ya udah hayu atuh Dinda mencoba memegang kendali

Bangkit dari tempat tidur, Dinda berjongkok di karpet di sebelah ranjang. Ketiga cowok jatahnya sore itu bergerak mendekatinya. Dinda kembali menelan ludah ketika tiga kontol yang sudah mengacung tegak mengelilingi kepalanya. Bau khas lelaki yang sangat kuat membuatnya pusing sekaligus terbuai. Dengan kedua tangan halusnya, dua kontol di kanan-kirinya dikocok pelan. Dinda lalu menciumi ujung kontol Jejen yang berada di depan mukanya, dan menjilati batangnya bagai es krim. Dinda melakukan servis mulutnya sambil memandang ke atas, menatap wajah Jejen dengan binal, tak keberatan wajah Jejen yang buruk rupa dan jelas jauh dengan pacarnya. Dilanjutkan dengan masuknya kontol Jejen seluruhnya dalam mulut Dinda yang mungil.

Mmmmhhhh…Slurrrrppp…Cppllkcpllkkk…. suara kecipak dari mulut Dinda mengiringi servisnya pada kontol Jejen.
Kontol Reza dan Ari di kanan kirinya dikocok dengan kedua tangan halusnya. Tubuh atas Dinda yang sibuk melayani ketiga lelaki mulai kembali berkeringat, bukit susunya ikut bergoyang seiring gerakan tubuhnya. Sementara di bawah, cairan memek Dinda menetes-netes ke karpet tempat ia jongkok.
Happpp…Mmmmhhhh Dinda melepas kontol Jejen dan beralih ke kontol Ari. Kontol Jejen dia ganti dengan tangannya. Tanpa sungkan dan ragu mengulum dan menyedot-nyedot batang Ari dengan nikmat. Si pemilik kontol hanya bisa memejamkan mata menikmati sepongan mulut Dinda.
Anjirr, tambah edun wae si Dinda nyepongna… racau Ari
Sering latihan sama si Anto yah Ceu? ledek Reza
Happpp…Berisik ah…Mmmhhhppp…Sluurrppp tukas Dinda sambil melepas kontol Ari dan melahap kontol Reza
Ingin membalas ledekan Reza, Dinda menyedot kontol pria kurus itu dengan lebih kuat dari yang lain. Lidahnya lebih agresif menyapu batang Reza, yang membuat pria itu meringis. Bukan hanya karena nikmat, tapi juga puas pancingannya berhasil.

Dan sekarang saatnya serangan balasan.

Kedua tangan Reza lalu mencengkram kepala Dinda yang terbungkus jilbab hitam. Dengan kasar digerakkannya kepala Dinda sementara pinggulnya bergerak berlawanan arah, yang membuat Dinda terbeliak kelabakan.
Mmmrrhhrhrhrhhgurhkkkmmmmmmhhhhhrrppp!
Ahhhh bangkeeee! Enak banget ngentotin mulut ceweknya si Anto! teriak Reza
Hrrnnnnggghhh! Dinda mencoba melawan, tapi tak bisa karena kepalanya dipegang erat oleh Reza. Sementara Jejen dan Ari memegang tangannya. Dinda hanya bisa pasrah merelakan mulutnya diperkosa oleh kontol Reza.
Face-fuck brutal itu berlangsung beberapa lama hingga akhirnya pinggul Reza berhenti bergerak. Begitupun kepala Dinda yang ditahan di posisi diam oleh tangan Reza. Mata Dinda membelalak ketika dirasakannya ada cairan kental hangat yang langsung menyemprot ke tenggorokkannya.
Hrrnghhhhhhhhh….Guulllpp!
Setelah momen yang terasa sangat lama buat Dinda, akhirnya Reza melepas kepala Dinda dari cengkramannya. Dinda langsung terbatuk-batuk, liur mengalir dari sudut mulutnya dengan beberapa helai jembut menempel di sana.
Uhukkk-uhuuukk…Puahhhh…Uhukk..Rekaaa sesek tauuu! protesnya sambil mengusap mulutnya dan menatap tajam ke arah Reza yang nyengir kuda.
Dinceu lu tambah cakep deh kalo lagi marah, apalagi kalo ada jembut gue di mulut lu
Gak bisa nafas akuuuu sungut Dinda
Peju gua lo telen Ceu?
Yaa gimana lagi atuh Reza, keselek aku iih… protesnya sambil memegang lehernya yang tertutup jilbab
Dinda terlalu sibuk marah-marah sehingga tak disadarinya seseorang yang mendekatinya.

Eh jiga nu enak euy, cobaan ah tukas Jejen yang tiba-tiba langsung menghampiri Dinda, memegang kepalanya dan dengan paksa memghujamkan kontolnya dalam mulut Dinda
Mas Jejen ap-grrggghhghghghghghhhhhhhhhhhh! refleks Dinda membuka mulutnya dan menelan kontol Jejen.
Seperti Reza, Jejen dengan brutal menghentakkan pinggulnya mendorong-dorong kontol hitamnya ke mulut Dinda seolah-olah mulut mungil gadis manis itu hanyalah sebuah lubang milik boneka seks. Kepala Dinda ikut digerakkannya maju mundur tanpa belas kasihan. Lagi-lagi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jeritannya pun tertahan kontol dalam mulut sehingga yang terdengar hanyalah suara seperti orang berkumur.
Grrrggghhhhhhhnnnkkggggghhhhh!
Ketika Dinda mulai kepayahan, Jejen melepas cengkramannya di kepala berjilbab Dinda. Gadis itu langsung terbatuk-batuk, seperti sebelumnya.
Kyaaa! Dinda memekik kaget ketika peju kental Jejen menyemprot muka mulusnya, meleleh di alis tebal dan hidung bangirnya.
Selain belepotan air mani Jejen, tampak wajah Dinda sudah memerah, matanya mulai basah oleh air mata. Tapi Dinda sudah tak punya tenaga untuk protes lagi, dia hanya bisa mengatur nafasnya yang memburu.
Giliran gua yah
Eh?
Ari tak mau kalah. Sekarang dia yang mengklaim mulut Dinda untuk kontolnya. Lagi-lagi Dinda digenjot dengan brutal di mulutnya, dan lagi-lagi Dinda hanya bisa menjerit tertahan.Tapi entah kenapa, dikasari seperti itu birahi Dinda malah semakin naik, nafsu primitifnya mulai bangkit. Pacarnya Anto bukan tipe yang akan memperlakukan Dinda seperti ini, dan bagaimanapun tentu cowok itu hanya punya satu kontol. Sensasi digilir tiga cowok yang memperlakukan dirinya seenak jidat hanya akan Dinda rasakan sekarang di tempat ini. Tanpa dia sadari, banjir di memeknya semakin menjadi-jadi.
Puahhhhh…Uhukk..Haahhhh hosh hosshhh… dengan wajah memerah dan mata sembab Dinda tersengal-sengal mengambil nafas setelah kontol Ari lepas dari mulutnya, yang untung tak selama dengan Reza atau Jejen tadi.
Tak dipedulikannya semprotan peju Ari yang mengarah ke jilbabnya, membuat jilbab hitam yang sudah basah dari dalam oleh keringat, sekarang dipenuhi bercak dari cairan kental dan hangat milik lelaki.

Anjir, lebih enakan dari disepong biasa euy seru Ari setelah kontolnya berhenti muntah
Bener kan, apalagi pake mulut si Dinceu yang hobinya nyerewetin kita di kantor balas Reza
Dinda hanya memandang tajam dengan mulut manyun ke arah mereka
Gila ih kalian mah protesnya pelan
Kapan lagi coba bisa digituin Ceu, lo dapet rezeki nomplok tiga kontol sekaligus hahaha goda Reza
Emang jarang si Anto maen kasar kitu? tanya Jejen dengan muka tengil
Diem ah Mas Jejen!
Melihat tampang Dinda yang kesal dan berantakan, ketiga cowok itu bukannya kasihan, ekspresi mereka malah semakin tampak menyebalkan.
Cup cup cup, udah jangan nangis neng Dinda Fitriani Anjani, sekarang gantian kita lagi yang ngasih enak, eneng diem aja yah, biar akang-akang ini yang nyervis goda Reza
Dinda hanya diam saja ketika dia diarahkan untuk duduk di pangkuan Jejen yang bersandar di tepi ranjang. Kontol Jejen yang setengah keras serasa menempel di pantatnya. Jejen memeluk pinggang Dinda sehingga gadis itu bersandar di dadanya.
Ri, keluarin jurus lo perintah Reza
Siap! Ari mengacungkan jari tengah dan telunjuknya berdampingan.

Dinda tahu apa yang akan Ari lakukan, sehingga tanpa diperintah dia mengangkangkan pahanya, menyajikan memek pinknya yang merekah dengan jembut tak terlalu lebat. Walaupun menurut, Dinda masih diam dan memasang tampang cemberut.
Tapi tak ayal bibir manisnya sedikit terbuka saat mendesah merasakan ujung jari Ari yang dengan nakal merabai bibir memeknya. Tangan Jejen juga mulai merabai payudaranya dan memainkan puting susunya yang sudah keras sempurna dan sangat sensitif.
Mmmmhhhhh… Dinda mendesah sambil sesekali memejamkan mata, sesekali memandang ke arah Ari yang menatapnya sambil nyengir menyebalkan. Dinda tak mau kalah, dia memasang tampang galak tapi apa daya permainan jari Ari di bibir memeknya membuat ekspresinya melunak. Walaupun baru hanya di bibir, banjirnya memek Dinda membuat suara kecipak terdengar jelas.
Mmmmm…Ahhhh! desahan Dinda semakin keras ketika sepertiga dari dua jari Ari masuk menerobos memeknya, tapi seketika Ari menarik jarinya sambil tertawa. Dinda blingsatan, dia ingin sekali jari Ari masuk sepenuhnya dalam memeknya, menggaruk bagian dalam lubang nikmatnya yang sudah gatal. Tapi Dinda masih gengsi. Dia masih marah dengan perlakuan ketiga cowok yang sudah memperkosa mulutnya tanpa ampun tadi.

Reza yang duduk di samping mereka melihat dilema Dinda tergambar jelas di wajah gadis itu yang masih blepotan air mani Jejen. Kesempatan baginya untuk semakin menjatuhkan gadis itu dalam perangkap birahi mereka.
Kenapa Dong, pengen dimasukin? Bilang aja ke si Ari ujar Reza santai sambil meremas salah satu susu Dinda yang bebas dari tangan Jejen
Nggak..Ahhh, ng..Nghhhh…. Dinda mati-matian menahan diri
Yahh Ri, si Dinda gak mau tuh lo kobel
Owh gitu yah, ya udah weh di luar aja, kayak gini terus yah? goda Ari menggesek jarinya di bibir memek Dinda
Dinda semakin blingsatan Ya kalo mau masuk mah masuk aja atuh…Ahhh! Dinda mengerang lirih, ekspresinya semakin campur aduk tak karuan. Sementara ekspresi ketiga lelaki yang sedang mengerubutinya semakin tengil.
Kayak gini? Ari menusukkan dua jarinya perlahan
Iiyaaaaaa! Ahhhhh! Dinda mengerang dengan kepala mendongak dan mata terpejam
Hahahaha! Takluk juga nih cewek! tawa mengejek Reza sudah tak dipedulikan Dinda
SLRPPHHHH! Suara becek terdengar ketika dua jari Ari sudah masuk sepenuhnya dalam gua berair Dinda dan mulai bergerak maju mundur. Dinda sekarang hanya bisa mendesah dan mengerang dengan mata terpejam dalam pelukan Jejen.
Anjir, ini memek basah banget siah seru Ari
Hayoh Ri, kobel langsung weh! saran Jejen

Dan sekarang saatnya jurus andalan Ari. Seperti teknik goldfinger milik aktor porno legendaris dari Jepang Taka Kato, Ari melengkungkan kedua jarinya yang berada dalam memek Dinda bagaikan cakar elang. Memang, bagaimanapun dikobel dengan jari sensasinya tidak akan sama dengan dipenetrasi oleh kontol. Tapi jari karena sifatnya yang prehensile bisa menggaruk bagian-bagian tertentu dalam dinding memek yang akan membuat pemilik memek itu mabuk kepayang.
Nggghhhhhhaaahhhhh! Dinda mulai histeris ketika ujung jari Ari menggaruk titik sensitifnya
Ari meraba-raba dinding memek Dinda dengan jarinya, mencoba mencari titik paling sensitif berdasarkan reaksi gadis itu.
Lo bukannya udah nemu dulu?
Lupa gua Za…Eh bentar, kayaknya di sebelah sini deh…
Nghhh..Ariiiii…Ahhh…Iiiya di situuuu!
Nah, ini dia!
Cakar elang milik Ari langsung bergerak menggaruk dinding memek Dinda dengan liar begitu menemukan tempatnya. Bila Reza jagonya melahap memek, Ari jagonya mengobel memek. Jari kasarnya bisa bergerak dengan cepat tanpa kenal lelah. Dinda yang jadi korbannya sekarang hanya bisa pasrah. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkram erat lengan Jejen yang memeluk pinggangnya. Kepalanya terdongak jauh, bila tidak tertutup jilbab pastilah terlihat urat-urat di lehernya yang menegang.
KCPAKCPAKCPAK! Cairan bening memercik keluar dari lubang memek Dinda seolah-olah sedang diserok oleh jari Ari. Jumlahnya semakin banyak dan suara kecipaknya semakin keras.
Ooouuuuuhhhhhh! Dinda hanya bisa melenguh sambil menggelinjang. Kakinya yang tadi hanya diam mengangkang sekarang mulai bergerak tak beraturan.
Ggggrhhhh! Ari menggeretakkan giginya saat memfokuskan tenaga ke dua ujung jarinya. Karpet di bawah tubuh Dinda sudah basah kuyup oleh cairan memek yang diserok keluar oleh Ari.
Tubuh Dinda semakin menggelinjang ketika akhirnya gadis berjilbab itu memekik keras
Nnnnnngggggghhhhhhhhhhaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhkkkkkkk!
SPLRRT! Ari menarik tangannya dan seketika SERRRRRRRRRRRR! Bagai air mancur cairan bening memancar dari lubang nikmat Dinda. Tubuh gadis itu tersentak-sentak liar saat orgasme dahsyat dengan squirtnya tiba.

Jejen, Reza, dan Ari tertawa-tawa melihat usaha mereka membuat Dinda pipis nikmat berhasil. Sementara Dinda, pelan-pelan membuka matanya setelah kelebat sinar putih dari orgasmenya tadi mulai menghilang.
Hahhhh…Hahhh…Ampun gilaa..Lemes aku… gumamnya lirih
Enak Ceu? goda Reza
Iiya… Dinda menjawab pasrah, tak ingin lagi melawan
Belum juga dimasukin kontol tuh memek
Hah? Oh…Iiya yaa… Dinda terhenyak ketika dia baru sadar
Belum ada satupun dari tiga kontol itu yang masuk ke dalam memeknya. Sementara dia sudah takluk dua kali. Melihat ke sekeliling, tiga kontol milik Jejen, Reza, dan Ari sudah kembali mengacung tegak, siap mengobrak-abrik tubuh Dinda. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Dinda merasa lemas tapi sekaligus bergairah. Dia sudah tak berminat lagi untuk menjaga harga dirinya. Biarlah dia diejek terus-terusan habis ini.
Ceu, masih kuat?
…Masih
Mau dimasukin kontol kita ke memek situ?

Dinda yang masih tersengal-sengal tersenyum dengan mata berbinar, lalu mengangguk pelan
Mau…

Bersambung ke Part 3

This Post Has Been Viewed 1,723 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *